Rangkaian Satu Abad Gempa Padang Panjang, Ada Tanggungjawab yang Belum Usai

Literasi1352 Dilihat

WARTA PENDIDIKAN – Gelaran ragam kegiatan sebagai rangkaian refleksi Satu Abad Gempa Sianok-Sumani (Gempa Padang Panjang) 1926, telah terselesaikan dengan kebersamaan dari berbagai lembaga inisiator dan kolaborator.

Sejak setahun silam, persiapan dan iven yang digelar pun telah menjadi bagian dari bukti kepedulian berbagai pihak terhadap pentingnya membangun budaya sadar bencana. Banyak lembaga yang ikut urung-rembug bersama para tokoh yang memiliki kepedulian terhadap mitigasi bencana.

Diksar Sekolah Siaga Bencana, Diksar Madrasah Siaga Bencana, Diskusi-diskusi Jurnalis tentang membangun Wartawan Peduli Bencana, penelusuran bangunan tahan gempa pasca gempa 1926, hingga kegiatan Tour de Patahan Sumatra, Bakti Sosial, dan Lomba Menulis Artikel Kebencanaan, telah mengisi ruang daerah ini. Semua dinisbahkan pada satu hal; membangun kearifan semua elemen tentang pentingnya kesadaran bahwa mitigasi bukan hanya domain pemerintah namun keniscayaan bagi semua pihak.

Kini, semua rangkaian kegiatan itu telah selesai, ditandai dengan peletakan batu pertama monumen gempa di Padang Panjang, dan ditutup dengan Zikir Bersama Kota Padang Panjang. Tetapi, tugas-tugas lembaga inisiator dan lembaga-lembaga pendukung belumlah usai. Ini baru langkah awal dari sebuah tanggungjawab besar yang mesti dipikul bersama.

Masing-masing lembaga, diharapkan terus bergiat. Tidak ada kata menyerah untuk setiap program dan langkah mengurangi risiko bencana di daerah ini. Padang Panjang, Tanah Datar, Agam, Bukittinggi, dan seluruh daerah di Ranah Minang yang rentan dengan potensi bencana adalah negeri kita, tanggungjawab bersama.

Kegiatan-kegiatan edukasi warga, membangun program sekolah dan madrasah siaga bencana, masjid siaga, RT Siaga, adalah langkah penting yang perlu disikapi dengan bijak oleh semua pihak. Semua program itu, siapapun penyelenggaranya, mesti didukung oleh pemerintah daerah. Ini bukan program berorientasi profit, bukan iven yang mengalirkan rupiah, namun upaya menyelamatkan generasi dari setiap potensi bencana yang ada. Ini adalah gerakan investasi kemanusiaan.

Rangkaian Satu Abad Gempa Sianok-Sumani 1926, telah memberikan kita pandangan baru, setiap proses membangun sumber daya yang lebih baik, akan tetap diikuti oleh segala kerumitan dan lambatnya respons, termasuk munculnya pihak-pihak yang mengambil kesempatan untuk kepentingan kelompok dan pribadi. Semua itu adalah pelajaran; untuk sebuah kebaikan, tidak selamanya berjalan mulus dan indah.

Gugus Sekolah Siaga Bencana

Setahun sudah program ini berjalan. Setelah 41 sekolah negeri dan swasta di Padang Panjang mengirimkan utusannya untuk mengikuti Diksar Sekolah Siaga Bencana. Dan kepengurusan pun terbentuk, setiap sekolah telah memiliki person in charge (PIC) yang bertanggungjawab pada aliran informasi dan komunikasi kebencanaan.

Kehadiran SSB di Padang Panjang, diharapkan dapat membantu terbinanya upaya membangun budaya sadar bencana di lingkungan sekolah. Ke depan, program-program ini mesti terus dikuatkan melalui peraturan yang menaungi di Kota Serambi Mekah.

Gugus Madrasah Siaga Bencana

Seperti sekolah siaga bencana, setiap madrasah di Kota Padang Panjang pun telah memiliki PIC kebencanaan setelah gelaran diksar tahun lalu. Pengurus GMSB diharapkan benar-benar tumbuh menjadi ujung tombak penguatan pengurangan risiko bencana di tingkat madrasah yang ada di Kota Padang Panjang.

Baca halaman berikutnya…..

Blibli.com
Blibli.com