Tagak Diambuang-Ambuang: Menakar Al-Qalb di Belantara Ego

Pojok Irwandi8246 Dilihat

WARTA PENDIDIKAN – Dunia yang kita huni hari ini adalah dunia yang membuat kecepatan sering kali membunuh ketepatan, dan keinginan diri menelan kewaspadaan.

Kita hidup di atas bumi yang penghuninya ada yang mengagungkan kecerdasan intelektual dan ketangkasan teknis, namun sering kali terperosok dalam kedalaman yang dangkal secara emosional. Di tengah hiruk-pikuk pencapaian lahiriah, manusia modern seolah kehilangan arah batinnya saat memasuki belantara kepentingan dan keinginan pribadi yang pekat.

Dalam khazanah kearifan di bumi Minangkabau, kondisi keberadaan manusia yang penuh risiko ini diringkas dalam ungkapan berhikmah: Tagak diambuang-ambuang, malangkah di ujuang karih, bakato di ujuang lidah. Sebuah ungkapan yang menggambarkan betapa ringkihnya martabat manusia jika berdiri tanpa sandaran ketajaman mata hati (firasat) dan pengendalian emosi yang mumpuni.

Berjalan di Atas “Mata Pedang”

Ungkapan tagak diambuang-ambuang (berdiri di atas ayunan) mencerminkan ketidakpastian posisi manusia di tengah kerapuhan tempat berpijak dalam menjalani kehidupan.  Sementara malangkah di ujuang karih (melangkah di ujung keris) mengisyaratkan bahwa setiap keputusan dan tindakan kita senantiasa berada di atas mata pedang risiko. Satu kesalahan kecil dalam menempatkan diri, maka kehormatan akan teriris.

Kita menyaksikan fenomena ini pada sosok-sosok yang berada di puncak kejayaan. Misalnya, ada  seorang  yang terlanjur dijadikan tokoh panutan, namun jatuh tersungkur dalam sekejap hanya karena ketidakmampuan mengendalikan keinginan  atau  tidak ada kehati-hatian dalam melangkah di area abu-abu etika.

Kehormatannya luruh bukan karena kurang pintar, melainkan karena ia tersesat di belantara egonya sendiri; ia kehilangan kemampuan bajalan salangkah maelo suruik—berjalan selangkah, lalu menarik diri sejenak untuk merenung. Ia abai bahwa setiap langkah adalah pertaruhan keberadaan dirinya saat ini dan masa datang.

Lebih tragis lagi, kita melihat bagaimana “kecerdasan lidah” tanpa “kecerdasan hati” menghancurkan ikatan perkawinan dan persaudaraan. Bahkan karir pun bisa babak belur. Ambil contoh, kasus seorang dosen baru-baru ini di sebuah universitas yang dipecat karena tindakan impulsif meludahi orang lain adalah potret nyata ketika lidah dan perilaku yang bergerak tanpa kendali mencerminkan kekosongan ruang spiritual di dalam dada.

Di sini, intelektualitas yang tinggi ternyata tidak berjalan seiring dengan kematangan emosi. Ketika ego mengambil alih kemudi di tikungan tajam kehidupan, gelar akademik hanyalah aksesori yang tak mampu membendung banjir amarah.

Etika Berpikir Sebelum Berucap

Agama mengajarkan bahwa hati (al-qalb) adalah raja, sementara anggota tubuh adalah prajuritnya. Jika raja kehilangan kendali di tengah lebatnya belantara keinginan, maka prajurit akan bertindak serampangan. Pepatah “bakato sabuah dipikiri” bukan sekadar anjuran untuk berhati-hati, melainkan sebuah wujud dari akhlak kehati-hatian untuk menyaring setiap getaran emosi sebelum mewujud menjadi kata dan perbuatan.

Al-Qur’an telah memberikan peringatan keras mengenai pentingnya menjaga ketajaman hati dan kesadaran dalam bertindak. Allah Ta’ala mewahyukan dalam Surah Al-Isra’ ayat 36: Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.

Ayat ini adalah fondasi dari manajemen emosi dalam bingkai rasa takut kepada Allah Ta’ala. Setiap bisikan yang muncul di hati harus dijernihkan oleh kesadaran bahwa kita diawasi oleh Allah Ta’ala sebelum diwujudkan oleh lisan dan tindakan. Tanpa validasi ini, manusia hanya akan menjadi budak dari reaksi sesaat yang merusak.

Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam juga menekankan bahwa kekuatan sejati bukanlah pada otot, melainkan pada kemampuan mengendalikan diri melalui hadits riwayat Bukhari dan Muslim: Bukanlah orang yang kuat itu yang pandai bergulat, tetapi orang yang kuat adalah orang yang dapat mengendalikan dirinya ketika marah.

Dari Ruang Tamu Hingga Ruang Publik

Tragedi hilangnya kecerdasan hati ini sering kali bermula dari unit terkecil: rumah tangga. Berapa banyak bahtera keluarga karam bukan karena persoalan ekonomi yang besar, melainkan karena ketidakmampuan pasangan untuk bakato sabuah dipikiri? Kalimat kasar yang terlontar dalam kemarahan, atau sikap egois yang enggan mengalah, adalah bentuk dari melangkah di ujung keris yang melukai pasangan dan anak-anak.

Rumah yang seharusnya menjadi tempat hati berteduh berubah menjadi medan pertempuran ego karena masing-masing pihak kehilangan kemampuan untuk maelo suruik (refleksi diri).

Di ruang publik, hilangnya “rem emosional” ini semakin dikobarkan oleh media sosial. Manusia modern begitu mudah menghakimi, mencaci, dan “meludahi” martabat orang lain melalui jempolnya. Kita seolah lupa bahwa setiap ketikan adalah perwujudan dari bakato di ujuang lidah yang dampaknya bisa menghancurkan hidup seseorang selamanya.

Renungan

Sudahkah kita memeriksa kedalaman hati kita hari ini? Di tengah dunia yang menuntut kita untuk selalu tampil terdepan, mungkin kita perlu belajar untuk kembali menarik langkah ke belakang sejenak—maelo suruik. Bukan karena kita takut kalah dalam kompetisi, melainkan karena kita takut kehilangan hakikat kemanusiaan kita di tengah belantara ego yang menyesatkan.

Kehormatan tidak terletak pada seberapa tinggi kita tegak berdiri di atas panggung dunia, tetapi pada seberapa tangguh kita menjaga hati agar tidak tergelincir di ‘ujung lidah dan ujung keris kehidupan.” Sebab, pada akhirnya, yang akan kembali menghadap Sang Khalik bukanlah jabatan atau gelar, melainkan qolbun salim—hati yang selamat, hati yang jernih, dan hati yang mampu menaklukkan badai di dalam dirinya sendiri.(*)

Penulis: Dr. Irwandi Nashir (Pegiat Kajian Falsafah  Minangkabau/Dosen UIN Bukittinggi)

Blibli.com
Blibli.com