Tour de Patahan Sumatra, Menyikapi Sabda Alam di Ranah Minang

Literasi2344 Dilihat

WARTA PENDIDIKAN – Perjalanan Tour de Patahan Sumatra telah tiba di garis finish. Jarak sekitar 55 kilometer ditempuh bersama para pegiat dan inisiator kegiatan. Semua memahami, alam telah bersabda, inilah tanda-tanda yang harus dipahami, dipelajari untuk bersisian sepanjang hayat manusia di atas lempeng bumi yang terus bergerak aktif.

Patahan Besar Sumatra (Great Sumatran Fault), adalah retakan aktif lempeng bumi sepanjang 1.900 km yang membentang dari Aceh hingga Teluk Semangko di Lampung. Patahan ini, terbentuk akibat tabrakan Lempeng Indo-Australia dan Eurasia, patahan ini membelah punggung Pulau Sumatra menjadi dua bagian dan membentuk rangkaian Pegunungan Bukit Barisan.

Patahan Semangko berusia relatif muda dan paling mudah terlihat di daerah Ngarai Sianok Kota Bukittinggi dan Lembah Anai di dekat Padang Panjang. Diketahui, patahan ini menjadi ancaman besar bagi penduduk Sumatra; terutama di wilayah pesisir bagian selatan dengan ancaman gempa bumi yang sangat tinggi. Sesar Semangko menjadi salah satu patahan aktif yang paling berbahaya di Indonesia, bersamaan dengan Sesar Naik Flores, dan Sesar Palu-Koro.

Menurut data, Patahan Besar Sumatra memiliki tipe sesar geser (strike-slip) mengiri, di mana daratan di sisi barat bergeser ke arah barat laut dengan kecepatan 10-30 mm per tahun. Sistem ini terbagi menjadi 19-20 segmen seismik aktif dari ujung utara hingga selatan.

Menyusuri jalur patahan ini, Sabtu (27/6/2026) sejak pagi dengan mengambil start di Ngarai Sianok, adalah pengalaman berharga untuk terus membaca gerak alam. Pesan-pesan di setiap sudut bumi pada manusia untuk terus mendalami, mencoba mengerti dan mampu melakukan harmonisasi antara alam dan kehidupan; alam telah mengirimkan pesan sejak lama.

Pesan-pesan itu bukanlah untuk memberikan kabar pertakut, melainkan menyuruh kita semua untuk bertadabbur; merenung dan memikirkan secara mendalam tentang kenampakan alam untuk mengambil makna dan hikmah. Sehingga, rasa syukur kepada Allah SWT tetap terjaga dengan terus menjaga alam dari kerusakan yang dapat berdampak pada bencana.

Seperti firman Allah dalam Surat Ali Imran ayat 190, “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda (ayat) bagi yang berakal.” Merenungi kembali apa yang ditunjukkan dalam konteks penciptaan alam, adalah momen bagi kita semua untuk menjadi bagian dari pejuang diseminasi sabda alam yang seketika tanpa pemberitahuan dapat berubah menjadi penyebab bencana yang tidak tertanggungkan.

Menyikapi Pasca Satu Abad Gempa Sianok-Sumani 1926

Gelaran ragam kegiatan sebagai rangkaian refleksi Satu Abad Gempa Sianok-Sumani (Gempa Padang Panjang) 1926, telah terselesaikan dengan kebersamaan dari berbagai lembaga inisiator dan kolaborator. Sejak setahun silam, persiapan dan iven yang digelar pun telah menjadi bagian dari bukti kepedulian berbagai pihak, terhadap pentingnya membangun budaya sadar bencana.

Mulai dari Diksar Sekolah Siaga Bencana, Diksar Madrasah Siaga Bencana, Diskusi-diskusi Jurnalis tentang membangun Wartawan Peduli Bencana, penelusuran bangunan tahan gempa pasca 1926, hingga kegiatan Tour de Patahan Sumatra, Bakti Sosial, dan Lomba Menulis Artikel Kebencanaan, telah mengisi ruang daerah ini. Semua dinisbahkan pada satu hal; membangun kearifan semua elemen tentang pentingnya kesadaran bahwa mitigasi bukan hanya domain pemerintah namun keniscayaan bagi semua pihak.

Kini, semua rangkaian kegiatan itu telah selesai, ditandai dengan peletakan batu pertama monumen gempa di Padang Panjang. Tetapi, tugas-tugas lembaga inisiator dan lembaga-lembaga pendukung belumlah usai. Ini baru langkah awal dari sebuah tanggungjawab besar yang mesti dipikul bersama.

Masing-masing lembaga, diharapkan terus bergiat. Tidak ada kata menyerah untuk setiap program dan langkah mengurangi risiko bencana di daerah ini. Padang Panjang, Tanah Datar, Agam, Bukitinggi, dan seluruh daerah di Ranah Minang yang rentan dengan potensi bencana adalah negeri kita, tanggungjawab bersama.

Kegiatan-kegiatan edukasi warga, membangun program sekolah dan madrasah siaga bencana, masjid siaga, RT Siaga, adalah langkah penting yang perlu disikapi dengan bijak oleh semua pihak. Semua program itu, siapapun penyelenggaranya, mesti didukung oleh pemerintah daerah. Ini bukan program berorientasi profit, bukan iven yang mengalirkan rupiah, namun upaya menyelamatkan generasi dari setiap potensi bencana yang ada.

Rangkaian Satu Abad Gempa Sianok-Sumani 1926, telah memberikan kita pandangan baru, setiap proses membangun sumber daya yang lebih baik, akan tetap diikuti oleh segala kerumitan dan lambatnya respons, termasuk munculnya pihak-pihak yang mengambil kesempatan untuk kepentingan kelompok dan pribadi. Semua itu adalah pelajaran; untuk sebuah kebaikan, tidak selamanya berjalan mulus dan indah.

Dari tempat lembaga-lembaga inisiator berpusat, selayaknya pada saat ini kita ucapkan terimakasih yang sedalam-dalamnya, salam takzim atas semua yang telah dilakukan untuk kebaikan bersama. Dan sampai jumpa di iven berikutnya. (*)

Penulis: Nova Indra (Direktur P3SDM Melati, Direktur alpha Rescue, Penulis buku Langkah Strategis Mitigasi Bencana Kota Padang Panjang)

Blibli.com
Blibli.com