
WARTA PENDIDIKAN – Membaca “Kisah Datuak Kayo” karya Andi Mulya, banyak orang akan tertawa dulu. Bahasanya Minang, gaya lapaunya, tokohnya seperti badut nagari. Wajah “bakilek, tenju bulek, sikek abuak balah tapi, muluik manih kucindan murah”. Sekilas ini hiburan.
Tapi bagi yang paham konteks, ini bukan hiburan. Ini pukulan. Pukulan pendekar paling mematikan. Dan yang melayangkan pukulan itu adalah Andi Mulya. Seorang penulis yang ketekunannya luar biasa. Profil dan karya-karyanya bisa ditelusuri di http://makadang.com.
Ketekunan
Keunggulan utama Andi Mulya adalah ketekunan. Lihat saja arsipnya di http://makadang.com. Beliau tidak berhenti di satu genre. Ada esai, ada kritik sosial, ada tutur adat buku dan novel karyanya, serta dokumen karena ia juga arsiparis yang cermat. Tulisan lulusan S3 Universitas Negeri Jakarta ini ada yang serius, ada yang jenaka. Semua ditulis dengan disiplin.
“Kisah Datuak Kayo” adalah bukti. Dalam satu tulisan pendek, Andi sanggup mencampur fabel, satir politik, dan nasihat adat. Dia bisa menggambarkan Datuak Kayo sebagai “pangka langan gadang, bakudo santiang, panyanyang pulo ka anak sampai ka kuciang”. Dua baris kemudian langsung membongkar: “hobi mambuek aturan. Ayam bakukuak subuah hari, nan punyo kanai panggia ka balai adat.”
Butuh jam terbang untuk bisa lincah seperti itu. Andi mendapatkannya dari kebiasaan menulis terus. Dari mengamati rapat nagari, dari duduk di lapau mendengar Pak Labai berkata “Kabau gadang bukan dek tanduaknyo, tapi dek gunonyo”, dari melihat sekolah dijadikan proyek pencitraan.
Karena tekun, beliau punya gudang diksi. Karena tekun, beliau paham ritme. Makanya tulisan ini hidup. Ada gurau Pak Angku: “Rendang nan lamak indak usah dijua sambia maniti sawah.” Ada pituah: “Padi makin barisi makin runduak”. Semua mengalir, tidak dipaksa.
Ketekunan ini yang membuat Andi Mulya bisa menulis apa saja. Hari ini fiksi anak, besok kritik birokrasi, lusa esai budaya. Dan semuanya punya ciri: cerdas, mengena, dan tetap berakar di tanah Minang.
Bahasa Lembut.
Ciri kedua Andi Mulya: lembut tapi keras prinsip. Bahasa “Datuak Kayo” sangat lembut. Tidak ada makian. Tidak ada kata kasar. Semua dibungkus humor dan tutur. Bahkan saat menyindir, beliau pakai cara orang lapau bergurau. “Jan-jan camin tu juo ka dipakuan foto,” kata orang lapau melihat Datuak hobi pasang foto di setiap dinding.
Tapi isinya? Tajam sekali.
Andi menyorot pemimpin yang menjadikan aturan sebagai alat kekuasaan pribadi. “Datuak mambuek aturan kalamak dek inyo surang. Masalah pribadi bacampua jo kebaikan basamo.” Datuak memecat anak karena orang tuanya berburu, hanya karena kudanya dulu digigit anjing. Datuak benci orang bersungut karena dirinya tidak punya sungut.
Ini kritik keras untuk otoritarianisme berkedok adat. Untuk sekolah yang tujuannya “mangitung untuang rugi” bukan mencerdaskan. Untuk pejabat yang percaya “makin banyak aturan, makin rancak sakola.”
Puncaknya ada di sini: “Kalau foto bisa manaja, alah lamo nagari kito manang olimpiade.”
Satu kalimat. Menampar. Membongkar seluruh budaya pencitraan. Mengingatkan bahwa bingkai foto tidak membuat murid pandai. “Nan mambuek pandai adolah guru nan ikhlas jo buku nan dibaco.”
Itulah kerasnya prinsip Andi. Pendidikan itu amanah. “Sakola tampek amanah nan jadi utang dunia akhirat.” Bukan tempat jualan jasa. Bukan tempat pajang wajah. Kelembutan bahasa membuat tamparan ini tidak ditolak. Pembaca ketawa dulu, baru sadar: “Ini kita juga.”
Obat Pahit Nagari.
Banyak yang mengira “Datuak Kayo” hanya cerita lucu. Padahal ini obat pahit.
Andi menutup dengan kalimat yang bikin merinding: “Datuak Kayo cuma 10% Datuak Corona di Nagari Subalah.” Artinya, penyakitnya menular. Ada generasi peniru. Ada sistem yang memungkinkan Datuak-Datuak baru tumbuh.
Di sinilah fungsi sastra. Ia tidak berteriak di jalan. Ia berbisik di telinga lewat cerita. Ia pakai tokoh fiktif untuk bicara tentang yang nyata. Dan karena ditulis dengan cinta pada nagari, sindirannya sampai.
Andi Mulya tidak membenci Datuak Kayo. Beliau kecewa. Kecewa karena sekolah, yang harusnya “indak samo jo balai. Tampek manjua sagalo ado”, justru dijadikan tempat dagang kekuasaan.
Sebagai mantan Kadis Kominfo, saya tahu betul: komunikasi paling efektif bukan yang paling keras, tapi yang paling masuk. Dan Andi menguasai itu. Dengan humor, dengan adat, dengan bahasa ibu.
Sebagai penerima Apresiasi 40 Tahun Pegiat Sastra dari Badan Bahasa Pusat, Andi Mulya sastrawan yang paripurna.
Terima kasih, Andi Mulya. Lewat http://makadang.com dan tulisan-tulisanmu, kau telah menunjukkan bahwa sastra Minang masih hidup. Masih bisa menertawakan, masih bisa menegur, masih bisa menyadarkan.
“Kisah Datuak Kayo” mungkin dibaca orang sebagai hiburan. Tapi bagi kami yang mengerti konteksnya, ini adalah pukulan paling jujur. Dan nagari kita butuh lebih banyak pukulan seperti itu. Agar yang bengkok bisa lurus kembali.
Untuk membaca dan mengikuti tulisan-tulisannya secara lengkap, silahkan buka link berikut ini: https://mak-adang.com/4558/kisah-datuak-kayo/. (*)
Penulis: Drs. Ampera Salim Patimarajo SH, M.Si. (Mantan Kadis Kominfo Kota Padang Panjang).




















