
Ketiga, selama melaksanakan pembelajaran jarak jauh, tidak sedikit peserta didik yang mengeluhkan masalah jaringan. Belum lagi jika peserta didik tersebut dari keluarga yang pas-pasan karena orang tuanya tidak boleh bekerja di luar rumah. Faktor geografis daerah juga sangat menentukan jaringan internetnya. Bahkan, banyak peserta didik yang kesulitan jaringan internet akhirnya mengakses internet melalui wifi di warung-warung, ada juga yang akhirnya malah mengerjakan secara berkelompok di salah satu rumah temannya yang memiliki jaringan seluler yang bagus. Hal ini malah menimbulkan kekhawatiran sendiri, esensi pembelajaran daring jadi hilang. Potensi penularan Covid-19 semakin tinggi karena mereka malah berkelompok di tempat-tempat umum. Banyak peserta didik yang mengusulkan untuk mendapatkan subsidi dari sekolah karena merasa mengeluarkan uang lebih untuk pulsa dan paket data. Kondisi semacam ini adalah alasan yang ampuh bagi peserta didik untuk menghindar dari pembelajaran jarak jauh.
Menurut penulis, ada beberapa solusi tepat yang bisa ditawarkan dalam menghadapi situasi dan permasalahan seperti di atas. Pertama, membuat tugas di rumah dalam bentuk proyek atau memanfaatkan aplikasi pembelajaran daring gratis. Contohnya, penugasan praktik berupa percobaan membuat hand sanitizer dengan guru terlebih dahulu memberikan cara dan bahan-bahan yang dibutuhkan, lalu proses dan hasilnya di foto. Bisa juga peserta didik diminta untuk mengurus satu tanaman dan menceritakan nama tanamannya, bentuk dan warna daun, spesiesnya, dan lain-lain. Model penugasan seperti itu dapat mengasah rasa ingin tahu anak-anak untuk mencari jawabannya.
Selanjutnya yang kedua, ciptakan kolaborasi antara anak dan orangtua dalam penugasan dan target belajar. Sehingga anak tak akan merasa belajar sendirian. Ketiga, lakukan perbedaan konten, proses, produk, dan tenggat waktu pengumpulan tugas menyesuaikan dengan kondisi geografis, rumah dan lingkungan tiap-tiap anak. Keempat, variasikan aktivitas pembelajaran jarak jauh, sehingga anak tidak hanya merangkum dan mengerjakan soal setiap hari. Kelima, target pembelajaran jarak jauh bukanlah pengumpulan tugas semata, tetapi juga menanamkan kebiasaan belajar di mana saja. Keenam, buka akses komunikasi bersama peserta didik, orang tua, sesering mungkin di banyak jaringan. Ketujuh, peran kepala sekolah sebagai leader sangat menentukan, fungsi koordinasi dan komunikasi dengan pendidik harus dibangun lebih baik lagi, terutama masalah penugasan kepada peserta didik. Sebaiknya kepala sekolah lebih sering melakukan monitoring dan evaluasi terhadap penugasan yang diberikan oleh pendidik, sehingga nantinya dapat melakukan langkah-langkah yang tepat jika peserta didik sudah mengalami kejenuhan dalam proses pembelajaran.
Semoga Covid-19 segera berlalu, dan proses pembelajaran kembali seperti semula. Seberapapun Canggih Teknologi, Tak Akan Bisa Menggantikan Peran Guru dan Belajar di Sekolah.
Penulis: Tri Wahjuni Pudji Estuningsih S.Pd., M.M (Guru SMA Negeri Bareng Jombang Mapel Ekonomi)



















