
Tuntutan profesi untuk menulis melalui tahapan penelitian sering dirinya lakukan untuk menunjang pendidikan pada strata yang lebih tinggi. Namun kendala yang ada pada dirinya dan banyak teman-teman hadapi adalah bagaimana menulis di media massa.
“Rasanya saya lebih senangnya membaca daripada menulis. Barangkali saya masih memandang pekerjaan sebagai guru baik di dalam maupun di luar sekolah sebagai beban yang menghambat saya untuk memulai menulis,” ujarnya polos.

Meski demikian menurutnya, setelah melihat rekan sejawatnya ibu Farida mulai membuka jalan menulis puisi dan cerpen bahkan membukukannya ia pun termotivasi dan berjanji untuk menulis pada kesempatan yang akan datang.
Magister Pendidikan Matematika jebolan Universitas Negeri Padang ini mengungkapkan, memang motivasi yang paling mendasar untuk menulis mesti secara internal mulai dari dalam diri. Sementara dukungan secara eksternal hanya merupakan ikutannya. “Motivasi menulis mestinya terbersit dari dalam diri sendiri terlebih dulu,” ujarnya.
Ia berharap dengan lahirnya buku sastra perdana SMA Don Bosco tahun ini, motivasi para guru dan siswa untuk mulai mendeklarasikan diri sebagai penulis pemula. Sebagai guru dirinya terus mendukung para siswanya untuk terus berkarya.
“Semoga saya bersama bapak/ibu guru yang lainnya terinspirasi untuk mulai mengguratkan karya seperti yang telah dimulai ibu Farida bersama anak-anak. Memang sebatas mengagumi saja belumlah cukup. Sudah waktunya kami mesti mulai agar benar-benar menjadi guru yang literat,” ujarnya semangat.
Di akhiri wawancara ia mengatakan, tulisan-tulisan pribadi yang dibuatnya memang ada tetapi naskah yang siap dipublikasi belum ada. Namun bagaimana pun juga dirinya bertekad untuk memulai. Menurutnya, minat baca tinggi mestinya diikuti dengan menulis agar pada waktunya bisa membubukan nama di dalam buku sebagai seorang guru penulis. (*)
Pewarta: Albertus Muda



















