Meneropong Gelora Penulis Sastra Pemula di SMA Don Bosco Padang

Berita Daerah1161 Dilihat

“Orang tua saya terus mendorong dan mendukung saya agar saya terus menggali, mengasah dan mengembangkan talenta dan bakat mulai dari hal-hal yang kecil sehingga suatu saat nanti saya akan melakukan hal-hal yang lebih besar,” ungkapnya.

Teman-teman sekolahnya pun selalu membesarkan hatinya. Dalam nada guyon ala anak remaja, ketika mengetahui bahwa dirinya punya tulisan dimuat di media, mereka selalu mengatakan bahwa dirinya benar-benar anak bahasa, anak sastra padahal ia mengambil jurusan MIPA.

“Teman-teman saya pada umumnya memuji dan memberi spirit kepada saya. Saya biasanya mengatakan kepada mereka bahwa mereka juga bisa seperti saya ‘lu juga bisa kaya gua.’ Jikalau ada niat baik, apa pun yang hendak kita lakukan pasti bisa kita lakukan. Di saat kita memiliki kemauan, di sana pasti ada jalan keluarnya,” terangnya.

Ia mengisahkan, setelah dirinya tahu bahwa pemenang pertama lomba cerpen satu sekolah dengannya, ia kagum dan memberi apresiasi atas keberhasilan kakak kelasnya. Baginya, meraih pemenang pertama dan ketiga merupakan sebuah kebanggaan yang luar biasa bagi sekolah dan keluarga.

“Saya bangga karena bisa menjadi pemenang ketiga tetapi saya lebih berbangga saat mengetahui bahwa pemenang pertama adalah kaka kelas saya, satu alma mater dengan saya di SMA Don Bosco Kota Padang. Semoga pengalaman ini melecut naluri saya untuk terus menulis apa saja” ujarnya.

Soal strategi belajar Ketua Redaksi Majalah DB Flame ini mengatakan, kerap ia belajar sendiri tetapi lebih sering belajar kelompok bersama teman-teman. Menurutnya, kalau belajar kelompok bersama teman sambil berdiskusi dan sharing, materi pelajaran akan lebih masuk dan mengena dalam memori.

Saat dirinya diajak ibu Farida sebagai guru bahasa Indonesia sekaligus guru pendamping, ia merasa senang dan bangga karena ia bisa menulis apalagi ibu pendamping menjanjikan bakal naskah cerpen mereka memiliki kesempatan untuk diterbirkan jadi buku antologi.

“Secara pribadi ibu Farida mendampingi saya dalam proses. Saya  memang jarang bertanya dan biasanya langsung buat sendiri. Saya juga mempelajari beberapa tulisan di google untuk saya jadikan sebagai referensi. Namun, setelah membaca referensi dari orang lain, dengan sendirinya muncul ide baru dalam pikiran saya untuk  menulis. Dengan ini menghindarkan saya dari tindakan plagiat, menjiplak karya orang lain,” terangnya tegas.

Gadis belia yang…

Blibli.com
Blibli.com

Tinggalkan Balasan