Kurikulum Mulok Antisipasi Kepunahan Bahasa dan Budaya Lokal

Berita Daerah1786 Dilihat

“Saya memberikan apresiasi kepada para guru hebat yang dengan sangat siap menggunakan momen ini, membuktikan profesionalismenya sekaligus menunjukkan kepada dunia bahwa budaya Lamaholot dan Kedang di Lembata masih ada. Oleh karena itu, mesti terus digali untuk dibukukan demi menjaga kepunahan budaya dan bahasa lokal,” ujarnya.

Kepada para nara sumber, Prof. Made Budiarsah, MA., Prof. Dr. La Ode Sidu Marafad, MS., Prof. Dr. Aron Meko Mbete., Dr. Robert Merseng, M.Hum., Dr. Lanny Koroh., Christina T. Weking, S.S ia berharap agar boleh menuntun bapak ibu, guru terkait karya yang mereka bawakan dalam seminar tentang budaya dan bahasa lokal di kabupaten Lembata-NTT agar mampu menghasilkan karya yang semakin berkualitas.

Ketua APBL Pusat, Prof. Made Budiarsa, M.A., professor pada Universitas Udayana Bali dalam sambutannya mengatakan, bulan bahasa mestinya menjadi ruang bagi setiap anak bangsa untuk mengekspresikan diri dalam bidang bahasa dan sastra sebagai wujud kecintaan akan budaya Indonesia. Menurutnya, melalui bulan bahasa, masyarakat pendidikan dan masyarakat pada umumnya diharapkan untuk semakin mengerti dan siap sedia melestarikan budaya bangsa juga menerapkan bahasa Indonesia secara benar agar budaya kita menjadi lebih baik.

Christina Weking, S.S., Penyuluh Kebahasaan dan Kesastraan pada Kantor Bahasa Nusa Tenggara Timur.

“Para siswa, mahasiswa dan para guru bahasa Indonesia mestinya berpartisipasi secara aktif agar budaya dan bahasa tetap terjaga dan semangat nasionalisme kita kumandangkan bersama,” katanya. Lebih lanjut menurutnya, di ulang tahun Sumpah Pemuda yang ke-92, rasa cinta terhadap bahasa Indonesia mulai mengendor bahkan berkurang. Generasi muda lebih bangga menggunakan bahasa asing.

Ia menegaskan, perlu ditumbuhkan semangat mengangkat harkat dan martabat bahasa Indonesia. Tingkatkan keterampilan bahasa Nusantara dan bahasa Indonesia. Peran bahasa lokal sebagai pendukung bahasa Indonesia dan memperkuat budaya daerah. Bahasa lokal sebagai alat komunikasi, ciri khas daerah dan kekayaan daerah mesti menjadi alat perekat dan penghubung antaranggota masyarakat. Ia menambahkan, keberadaan bahasa lokal mesti menjadi pendukung bahasa nasional.

“Hilangnya bahasa lokal disebabkan oleh pengaruh global, etnis minor mayor, kurangnya minat mendalaminya dan pengaruh perkawinan silang,” tegasnya.

Blibli.com
Blibli.com