Kurikulum Mulok Antisipasi Kepunahan Bahasa dan Budaya Lokal

Berita Daerah1878 Dilihat

“Banyak nilai dalam unsur kebahasaan dan budaya telah tergerus. Hal tersebut secara sederhana dapat kita amati dalam bahasa tutur setiap generasi,” tegasnya. Oleh karena itu, ia berpesan, gali dan temukan kebenarannya, lalu dokumentasikan secara baik sebagai kekayaan Lembata yang harus dibagikan kepada generasi penerus.

Pada kesempatan yang sama, Prof. Dr. Aron Meko Mbete, professor pada Universitas Marwadewa Bali juga memberikan beberapa langkah praktis yang dapat dijadikan tips dalam merawat budaya Lembata. Menurutnya, berbicara kurikulum muatan lokal suatu daerah, maka substansinya adalah bicara soal budaya. Sebab budaya menurutnya, merupakan inti dari kurikulum mutan lokal.

“Sebab budaya merupakan inti dari kurikulum muatan lokal, maka budaya perlu dirawat. Salah satu bentuk merawat budaya yang baik adalah mendokumentasikan semua unsur dan nilai yang terkandung di dalamnya secara baik dan benar pula,” tegasnya.

Prof. Dr. Aron Meko Mbete., Professor pada Universitas Marwadewa Bali dan Penasihat Asosiasi Peneliti Bahasa Lokal Pusat.

Lebih lanjut katanya, Lembata memiliki kekayaan budaya yang luar biasa. “Kekayaan budaya Lembata ini akan terus dinikmati oleh generasi Lembata, kalau budayanya dirawat. Secara pribadi, saya mengapresiasi sikap pemerintah Lembata melalui Dinas Pendidikan yang menyatakan kesiapannya untuk memberlakukan kurikulum muatan lokal di sekolah-sekolah di Lembata,” pungkasnya.

Selaku Penasihat Asosiasi Peneliti Bahasa Lokal (APBL), Prof. Aron menyatakan kesiapannya untuk bersama barisan para akademisi serta pemerhati budaya-bahasa tanah air lainnya, untuk mendukung Lembata segera memiliki kurikulum tersebut. Semoga Lembata mampu mencatatkan namanya di kancah Nasional sebagai kabupaten yang memiliki kurikulum muatan lokal sendiri. (*)

Pewarta: Albertus Muda

Blibli.com
Blibli.com