
Prestasi ini tidak otomatis membawa Rafa menjadi bagian dari tim nasional untuk GeCAA 2020. Menurut Rafa, dia masih harus berjuang melalui dua tahapan seleksi. Pertama, 30 besar pemenang OSN dipanggil mengikuti pelatnas tahap 1 di Bandung, selama dua minggu. Setiap hari, Rafa harus berkutat mengerjakan soal dari para dosen Astronomi ITB dan alumni peraih medali internasional sebelumnya.
“Atmosfer pelatnas sangat kompetitif. Para peserta pelatnas saling berlomba-lomba agar mampu mewakili Indonesia di ajang internasional,” kenangnya.
“Alhamdulillah saya akhirnya mampu membuktikan pantas untuk dipanggil kembali di pelatnas tahap dua,” lanjutnya.
Pelatnas tahap kedua diikuti 12 peserta terpilih pada pelatnas tahap pertama, ditambah dua peraih medali IOAA 2019 yang masih memenuhi syarat ikut ajang internasional ini. Sehingga, total siswa yang mengikuti pelatnas tahap 2 adalah 14 siswa. Ke-14 siswa ini akhirnya ditetapkan sebagai timnas untuk mewakili Indonesia pada kompetisi GeCAA.
Tim Nasional Indonesia dibagi menjadi dua bagian untuk ikut dalam kompetisi individu dan kompetisi kelompok. Rafa masuk dalam kompetisi individu. Sebelum berkompetesi, ke-14 siswa yang ditetapkan sebagai timnas Indonesia mengikuti pelatihan tahap akhir sebagai pematangan materi. Pelatihan ini berlangsung sejak awal September hingga waktu perlombaan di rumah masing-masing.
Pelaksanaan Kompetisi ini dilaksanakan pertama kali secara daring. Kompetisi ini diselenggarakan oleh dewan internasional IOAA dengan dukunagn Komite Olmpiade Astronomi Estonia. Pelaksanaan teknis GeCAA dibuat sedekat mungkin dengan pelaksanaan IOAA secara fisik, yaitu: terdiri dari babak teori, analisa data, dan observasi.
Secara keseluruhan Timnas indonesia mendapatkan 10 penghargan, yaitu: 3 medali perak, 6 medali perunggu, dan 1 Honorable Mention. Dua medali perak lainnya diraih siswa SMA Kharisma Bangsa dan SMA Kristen 5 Penabur. (*/kemenag)



















