
“Mudah-mudahan di tangan pak Adi da Silva juga badan pengurus yang didominasi oleh guru-guru milenial, Agupena Lembata, berkiprah lebih jauh. Kalau tidak ada kegiatan, renungkan sembari berjalan ke laut yang lebih dalam. Pak Adi dan kawan-kawan melanjutkan yang sudah ada. Tingkatkan terus, agar teman-teman guru merasakan kehadiran Agupena di Lembata,” ujarnya menutup pembicaraanya.
Sementara itu, Kadis Lembata melalui Aloysius Gesuk, S.Pd. SD, Kepala Seksi Kurikulum dan Kesiswaan Dinas PKO Kabupaten Lembata, mengucapkan terima kasih kepada pengurus sebelumnya yang telah berusaha membawa citra Lembata, sebagai organisasi profesi yang mendongkrak kompetensi guru sehingga benar-benar profesional dari segi tulis-menulis.
Menurut Alo Gesuk, bukan bukan hanya sekedar omong di depan kelas tetapi mesti bisa membahasakan atau menuliskan idenya. Maka menurutnya, ide boleh ada tetapi jika tidak tertuang, itu omong kosong. “Bahasa lisan mudah dilupakan, tetapi bahasa tulis akan tetap bertahan sampai kapan pun. Sebuah dokumen akan tetap ada dan menceritakan kepada generasi berikutnya tentang apa yang dilakukan,” ungkapnya.
Alo Gesuk berharap, ketua terpilih dan jajaran pengurusnya mesti serius melanjutkan tugas keprofesian di Agupena. “Guru tidak menunjukkan eksistensi sebagai guru atau meningkatkan empat kompetensi guru, kalau dirinya tidak menuangkan ide dan gagasan untuk menunjang kompetensi-kompetensi tersebut bertumbuh dan berkembang,” ungkapnya.
Tugas pengurus menurutnya, hendaknya betul-betul menjadikan organisasi ini sebagai terminal, tempat menampung ide dan gagasan untuk dibuat dalam tulisan-tulisan. “Pengurus Agupena Periode 2020-2023 didominasi oleh guru-guru yang masih muda, energik, maka tampilkan hal-hal yang baik dan tunjukkan hal-hal yang nyata.
Mengutip Mangunwijaya, Alo Gesuk mengatakan dua hal. Pertama, pentingnya ikut ambil bagian dalam kebersamaan di mana banyak orang berpendidikan berkumpul. Kedua, membiasakan diri dengan membaca. “Organisasi Agupena tugasnya mengumpulkan orang yang berlatarbelakang profesi guru. Maka, di tengah dunia yang mengidolakan individualitas, teman-teman masih mau berkumpul untuk saling memajukan,” ungkapnya.
Ia mengatakan, bagaimana mungkin orang mau membaca, jika tidak ada tulisan yang tersedia. Bagamana orang mampu menuangkan ide, tetapi tidak ditulis dan disebarkan kepada teman yang lain, agar rekan yang kita ajak, juga mampu seperti para guru hebat. “Teman-teman di organisasi dan kami di pemerintahan adalah mitra yang memikirkan dan membangun Lembata dengan cara masing-masing. Ada sesuatu yang dipersembahkan kepada Lembata melalui organisasi profesi ini,” ungkapnya.
Pewarta: Albertus Muda



















