
Ditarik lebih jauh, kita makin mengerti bahwa setiap ucapan dan tindakan akan ditimbang benar tidaknya pada akhirnya. Bukan awalnya. Seperti ujian, penilaian benar salah selalu pada akhir ujian, bukan pada awal ujian. Kalau dibalik, kita keluar dari kaidah ilmiah.
Maka kalau kita membandrol bahwa ucapan dan perbuatan kita selalu benar, apalagi di awal, lebih tidak ilmiah lagi. Itu sebabnya ketika sahabat mulia Abu Bakar As Shiddiq berkata terkait Isra’ Mi’raj…” Jika ia (Rasul) yang mengatakannya, maka benarlah ia”. Maka ini tercatat dalam sejarah. Sebab hanya terhadap ucapan Rasul ungkapan itu menjadi benar, sebab Rasul SAW itu maksum dan setiap ucapannya dipandu wahyu.
Selain dari ucapan dan tindakan Rasul, tidak ada jaminan kebenaran di awal. Semua bisa diterima atau ditolak. Kebenaran ditimbang pada akhirnya. Tidak boleh merasa paling benar, sekalipun kelompok, jamaah, parpol, atau entitas apapun.
Pendapat pribadi bisa dipatahkan pendapat pribadi lainnya, hasil syura (musyawarah) bisa dibatalkan musyawarah berikutnya. Begitu kaidahnya. Pendapat suatu organisasi selalu mendapat pembanding dari organisasi lainnya, pendirian suatu parpol selalu berhadapan dengan pendirian parpol lainnya. Kalau deadlock, bahkan sampai voting. Tidak ada yang salah dan yang musti dipersalahkan, inilah sunnatullah.
Dari sejarah kita belajar, bagaimana industri otak, pemikiran, selalu menarik perhatian sekalipun bangsa kita dalam kondisi terjajah. Viral saat itu dialektika Soekarno-Natsir di surat kabar. Hamka-Pramodya di ladang sastra. Bahkan yang fenomenal, debat A Hasan Bandung dengan berbagai pihak.
Yang terakhir disebutkan ini, debat A Hassan Bandung, diadakan di stadion atau ballroom. Penonton memenuhi ruangan sampai ke balkon. Sang pendebat duduk berhadapan di tengah arena, dengan tumpukan buku rujukan. Bisa dibayangkan kesunyian ruangan ketika mereka berdebat, sebab audio visual tentu sangat minim di zaman itu. Bisa disamakan sekarang dengan penonton tenis lapangan, setiap ayunan raketpun terdengar, gelegar penonton baru terjadi setiap game selesai.
Yang menarik, sekeras apapun mereka berdebat, masalah fiqih, aqidah, atau lainnya. Tercatat A Hasan juga pernah berdebat dengan Pendeta dan dari kalangan Ahmadiah. Seringnya debat fiqih dengan ulama lainnya, mereka para ulama itu punya kaidah debat yang elegan.
“Ro’yii shawwab wa mukhtalafun ‘alal khata’, wa ra’yuka khata’ wa mukhtalafun ‘alas shawwab. Wallahu a’lamu bis shawwab“.



















