Peserta Didik Tsanawiyah Tidak Mampu Baca al-Quran, Apa yang Harus Dilakukan Guru?

Berita Opini237 Dilihat

WPdotCOM – Siswa  Madrasah Tsanawiyah yang belum bisa baca  al-Qur’an, masih didapati dari waktu ke waktu. Hal itu terjadi disebabkan orangtua siswa tidak mampu mengajari dan mencarikan jalan keluar sesuai kebutuhan anak.

Masalah itu, sering didapati pada keluarga tidak mampu. Jangankan untuk membiayai pendidikan baca al-Quran anaknya, kadang untuk memenuhi kehidupan sehari-hari saja sudah mengalami kesulitan. Kemiskinan menjadi halangan untuk mendidik anak, dan jumlah anak yang dimiliki dalam sebuah keluarga, juga turut mempengaruhi kemampuan orang tua untuk membiayai pendidikan.

Selain persoalan kemiskinan, ada masalah lain dalam pengontrolan kegiatan anak. Ada anak yang telah dimasukkan ke tempat belajar baca al-Quran, namun karena kurangnya control orang tua, si anak malah tidak pergi belajar. Mereka memilih bermain bersama teman-temannya. Waktu yang telah ditetapkan untuk mereka belajar pun tidak digunakan pada hal-hal  positif.

Kenakalan anak dan remaja sering pula muncul karena hal ini terjadi. Teguran dari orang tua kadang tidak diindahkan mereka, tidak dipedulikan sama sekali.

Tentu saja proses yang menyimpang ini menjadi masalah. Harapan terhadap anak yang diinginkan pandai mengaji dengan standar tajwid dan tilawah yang tepat, hafalan yang bagus, menjadi kesayangan guru, semakin jauh dari kenyataan. Memasuki usia sekolah menengah pertama, kemampuan dan keterampilan membaca al-Quran pun belum diperoleh dengan baik. Bahkan, masalah ini juga seering ditemui pada anak-anak di usia menjelang sekolah menengah atas.

Selaku guru di sekolah, penulis yang juga merupakan Wakil Kepala di Maddrasah Tsanawiyah (MTs) Muhammadiyah, mengalami kesulitan untuk mengatasi persoalan tersebut. Karena bila siswa tidak mampu membaca Quran, otomatis banyak mata pelajaran lain yang juga akan bermasalah diikuti siswa bersangkutan.

Sementara di MTs Muhammadiyah di mana penulis mengabdikan diri sebagai pendidik, ada 16 mata pelajaran. Rata-rata, semua mata peelajaran yang berkaitan dengan materi a-Quran, sulit dijalani oleh siswa bermasalah tersebut. Malah, menurut pendapat penulis, siswa yang mengalami masalah tidak mampu membaca al-Quran itu belum mampu menjadi pelajar di tingkat menengah pertama.

Mencermati permasalahan ini, penulis sebagai Wakil Kepala bidang Kurikulum benar-benar merasa kesulitan. Mengeluarkan anak yang bermasalah seperti ini dari sekolah, tentu bukan pilihan. Apalagi peraturan dan kebijakan pemerintah juga turut melarangnya.

Untuk itu, sebagai baggian dari keluarga besar pendidik di tanah air, penulis meminta pendapat dan masukan dari berbagai kalangan. Termasuk pada pembaca. Dengan harapan, masukan yang positif, dapat menjadi bagian dari pemecahan masalah yang dihadapi. (*)

Penulis: Jusmaniar (Guru MTs. Muhammadiyah Batusangkar, Tanah Datar)

Blibli.com
Blibli.com