
Harus diakui bahwa demokrasi di antara sistem politik kenegaraan yang ada, masih dianggap sebagai yang terbaik. Tantangannya adalah kleptokrasi dan penyalahgunaan kekuasaan yang masih dapat ditemukan ketika sebagian yang lain berupaya mencintai Indonesia sepenuh hati. Belum lagi persoalan intoleransi yang terus membayangi baik di ruang nyata maupun ruang informasi digital kian membuat sesak realitas Islam di Indonesia menjelang kontestasi pemilu 2024. Yang lebih miris adalah sebagian generasi muda menjadi bagian yang terpapar bahkan ikut menikmati kekisruhan itu dalam proses pencarian makna hidup. Sebuah keresahan yang perlu dipertanyakan oleh generasi muda saat ini. Mengingat generasi muda menjadi bagian dalam capaian tujuan Sustainable Development Goals (SDGs) yaitu menyukseskan bonus demografi Indonesia pada 2030. Dalam situasi yang lain, ancaman gizi buruk bagi anak-anak balita, merupakan tantangan kesehatan di depan mata yang berwujud kerdil (stunting), dan tentu saja memengaruhi proses tumbuh kembang anak-anak menjadi gnerasi muda yang sehat dan akan menjadi batu sandungan bagi pencapaian pembangunan berkelanjutan.
Fakta lainnya adalah angka pengangguran di Indonesia berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada Agustus 2022, tingkat pengangguran terbuka penduduk yang tertinggi adalah kelompok umur muda (15-24 tahun). Meski pada tahun yang sama di bulan Februari 2022 angka tingkat pengangguran terbuka didominasi usia antara (15-29 tahun), dalam praktiknya lapangan kerja masih belum memberikan tempat yang tepat untuk memfasilitasi talenta tersembunyi generasi muda. Berpijak dari uraian di atas, maka generasi muda dalam hal ini gerakan Pemuda Muhammadiyah yang sejak berdiri pada 1932, dan hadir hingga detik ini perlu melakukan langkah strategis dalam merespons risalah Islam Berkemajuan, dengan melakukan peningkatan kapasitas baik secara kelembagaan dan personal sehingga talenta kader dapat menumbuhkan ekosistem gerakan di ranah keagamaan, sosial-budaya, ekonomi dan politik.
Risalah Pemuda Berkemajuan
Sejatinya visi pendidikan dan agama dapat berjalan seiring dengan fakta-fakta tersebut untuk mencari tempat pencarian reflektif, namun realitas berkata lain bahwa teknologi informasi dengan kekuatan big data-nya lebih menggoda sebagian generasi muda untuk mencari dunia artifisial yang dangkal dari nilai-nilai kebenaran. Sebagai jalan alternatif generasi muda, Pemuda Muhammadiyah yang mengantongi pesan rekomendasi Muhammadiyah dalam isu-isu strategis keumatan, kebangsaan, dan kemanusiaan global dalam bingkai risalah Islam berkemajuan, maka keresahan sosial itu harus dijawab dengan gagasan sistem perkaderan yang terintegrasi. Di antaranya adalah dengan menyelenggarakan sistem perkaderan yang berorientasi pada etos sosial-tauhid.


















