
WARTA PENDIDIKAN – Ucapan innalillahi wainna ilaihi raaji’uun saat tertegun meneteskan airmata mendengar kabar berpulangnya seorang tokoh jurnalis Sumatra Barat, sekaligus pimpinan organisasi keagamaan Muhammadiyah.
Ya, beliau Musriadi Musanif, seorang sarjana teologi Islam, jurnalis senior yang sudah malang melintang dalam dunia kewartawanan sejak tahun 1987 silam. Kini sosok itu telah dipanggil Sang Khaliq. Tepat pukul 01.00 dinihari Senin (10/3/2025), saudara, teman bersinergi, tempat berdiskusi sekaligus guru, telah berpulang meninggalkan dunia yang fana ini. Ia pulang dengan segala kebaikan yang telah ditebarnya.
Sosok putra Desa Sukamenanti Pasaman Barat itu adalah figur yang memiliki karakter teladan bagi banyak orang, baik di dunia kewartawanan, hingga dunia aktivis sejak dulu. Musriadi adalah penulis feature yang handal. Apapun bentuk karya tulisnya, selalu enak dibaca dan menjadi contoh bagi para pebelajar kejurnalistikan dalam circlenya.
Sebagai seorang guru di dunia kewartawanan, bagi penulis, figur Musriadi Musanif adalah teladan yang sulit dicari pembanding. Saat penulis baru beranjak dewasa, dan disibukkan dengan pelajaran-pelajaran kejurnalistikan, ia adalah salah seorang yang memberikan tuntunan, sama seperti jurnalis senior Nazaruddin Tanjung (alm), seorang wartawan kawakan di Luhak nan Tuo ketika itu. Musriadi memberikan wejangan-wejangan yang bernas, selalu menekankan pentingnya ‘kemanusiaan’ dalam setiap aksara yang dituangkan dalam tiap-tiap karya.
Sampai pada masanya, ketika Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sumbar hampir dua tahun lalu meminta kami untuk mengelola media informasi Muhammadiyah dalam bentuk media online bernama MenaraMu.id, kami terus bersama-sama. Melangkahi waktu demi waktu, menyediakan diri masing-masing untuk berbuat kebaikan bagi kelangsungan media milik Persyarikatan Muhammadiyah yang sejak awal kami motori. Dan pada waktu itu, Musriadi ditunjuk sebagai Pemimpin Redaksi, sementara penulis mengelola perusahaan media tersebut.
Sungguh, atas nama segala kuasa Allah, Musriadi adalah teman dan saudara dalam segala kebaikan. Tanpa pernah berpikir untung rugi, setiap perlakuannya didasari pada nilai-nilai kebersamaan.
Di dunia aktivis, penulis sejak masih belia, selalu berada dalam pengaruh kebaikan yang ditonjolkannya dalam menggoreskan pena. Walaupun tidak setiap saat berada dalam satu lingkungan dengannya, tiap didikan yang diberikannya, berisikan kebaikan.
Suatu ketika, sekian puluh tahun silam, kami bersama-sama, sesama aktivis selalu hadir dalam beragam pergerakan, mewarnai, memberi motivasi, walau tak jarang harus berdiskusi ‘keras’ dalam setiap pengambilan kesimpulan pada segala keputusan yang akan dijalankan. Dia adalah sosok yang humble, mengajari tanpa memaksa, mendidik dengan ketawadhuan.
Musriadi adalah seorang kakak yang terlalu baik. Baginya, kami adik-adiknya adalah cermin yang harus dibersihkan dari segala keburukan. Termasuk pada bagaimana ia dengan jiwa besar menyerahkan jabatan yang seharusnya ditempatinya di organisasi kepemudaan ketika itu. Ia memilih menjadi wakil ketua, sementara penulis diberikan kesempatan memimpin. Benar-benar seorang guru dan kakak yang berjiwa besar.
Kini, di tanggal 10 Maret 2025, bertepatan 10 Ramadhan 1446 Hijriyah, sosok itu dipanggil Allah, kembali pulang ke haribaan Sang Pencipta. Dan kami telah kehilangan seorang teman, saudara, sekaligus guru dan tempat berdiskusi.
Kini, putra Pasaman Barat itu telah pergi selamanya. Tidak akan lagi cengkerama sambil ngopi bareng di salah satu sudut kota. Tidak ada lagi chattingan untuk berjanji saling tunggu untuk pergi rapat atau sekadar bersua. Dia telah pergi, mendahului mereka yang mengenali segala kebaikan yang dimilikinya.
Selamat jalan Bang Mus, selamat jalan Inyiak. Kami juniormu, adik-adikmu, murid-muridmu, sangat yakin Allah akan memberikan tempat yang terbaik di sisiNya. Suatu saat nanti, kita akan kembali berkumpul di hadapan Allah Subhanahu wata’ala. (Nova Indra)




















