Membebaskan Proses Pendidikan dan Pengajaran dari Tindak Kekerasan

Berita Opini672 Dilihat

Selain ketiga kesalahan di atas, ada pun kesalahan keempat, menggurui. Sikap yang menyebabkan hilangnya ketertarikan peserta didik terhadap guru dan orang orangtua. Kelima, memaksa. Keenam, marah berlebihan. Sikap ini membuat anak bingung bahkan terlukai perasaannya. Ketujuh, meremehkan/memberi cap. Tindakan ini menyebakan anak merasa rendah diri. Kedelapan, menjebak. Kesembilan, mencari kambing hitam. Kesepuluh, hukuman fisik.

Fakta yang telah diuaraikan di atas tentu membelenggu suasana pendidikan dan pengajaran kita. Guru dan orangtua hendaknya menyadari dan segera mengembalikan suasana pendidikan dan pengajaran yang membebaskan, memerdekakan, memberi rasa aman dan menyenangkan kepada anak agar mengalami suasana belajar yang merdeka.

Jalan Keluar Bersama

Henry Nouwen (1986:32-36) menawarkan beberapa bentuk pengajaran sebagai solusi bagi pengajaran yang membebaskan. Pertama, evokatif. Artinya guru dan peserta didik harus berupaya membangkitkan kemampuan yang mereka miliki dan menjadikannya tersedia bagi satu sama lain. Dalam konteks ini, peserta didik mesti memberi ruang bagi guru menjadi gurunya dalam menawarkan pengalaman hidupnya sebaliknya peserta didik.

Kedua, pengajaran dialogis. Di sini bukan hanya murid yang belajar dari guru, akan tetapi sebaliknya guru juga harus membuka diri belajar dari murid. Ketiga, mengaktualisasikan. Jika belajar merupakan persiapan untuk masa depan, maka perwujudannya mesti konkrit dimulai dalam pengajaran kini dan di sini. Dengan kata lain, aktifitas belajar mesti kontekstual.

Sekolah mesti menjadi tempat di mana persaudaraan dapat dialami. Hidup bersama tanpa merasa takut mesti mekar dalam diri anak. Belajar mesti didasarkan pada pertukaran pengalaman dan gagasan kreatif. Jika demikian, maka anak yang telah menamatkan sekolahnya tentu akan memiliki keinginan yang semakin besar untuk melanjutkan pendidikan pada tingkat yang lebih tinggi.

Mendidik dan mengajar mesti menjadi jalan untuk menciptakan ruang di mana guru dan murid dapat berhubungan secara intens satu dengan yang lain. Belajar bukan hanya sekedar anak ke sekolah dan masuk ruang kelas. Komunikasi mesti tetap dibangun di antara keduanya meskipun anak telah meninggalkan sekolah bahkan menamatkan sekolahnya. Belajar sesungguhnya merupakan proses yang menuntut kelanjutan dan tidak terbatas pada nilai dan gelar.

Orang tua dan guru barangkali pernah mengalami rasa jengkel atau marah  karena anak yang kurang kooperatif. Apalagi kalau sedang dilanda banyak masalah tentu emosi negatif sangat mudah meluap keluar. Mungkin sudah bersabar tetapi kadang tidak terhindarkan sehingga memicu kejengkelan, membentak, atau bahkan main tangan terjadi.

Oleh karena itu, tiga kekerasan pengajaran dan sepuluh kesalahan mendisiplinkan anak di atas hendaknya selalu mengingatkan orang tua dan guru. Memperpanjang napas kesabaran sebagai guru dan orang tua adalah sangat penting di dalam menemani pertumbuhan dan perkembangan pribadi anak-anak secara sehat.

Guru dan orang tua…

Blibli.com
Blibli.com

Tinggalkan Balasan