Guru SMATER Don Bosco Lembata Home Visit ke Rumah Siswa

Berita Daerah876 Dilihat

Ia menegaskan, meski sedang dalam kondisi pandemi ini, yang tentunya punya tantangan berat, para guru perlu mencari solusi atas partisipasi peserta didik yang rendah karena keterbatasan akses jaringan informasi, sumber belajar maupun kurangnya minat belajar.

“Dalam situasi ini, para guru dituntut untuk kreatif dan inovatif dalam pembelajaran serta mencari solusi atas situasi dan kesulitan yang ada. Memang tidak semua guru memiliki kemampuan dan akses teknologi informasi yang memadai, namun saya mendorong mereka untuk saling belajar di antara mereka” ungkapnya.

Secara terpisah, Carolus Boromeus Tupen Nilan, ayah dari Theresia Elisabeth Ina Jaji Nilan mengatakan, sebagai orangtua mereka pun merasakan kesulitan yang sama saat pemberlakuan belajar dari rumah dalam upaya mencegah dan memutus laju virus corona di Lembata.

Menurut Tupen Nilan, pekerjaan mendampingi anak belajar di rumah, memotivasi anak untuk tetap memiliki minat belajar, menyediakan fasilitas buku-buku pelajaran, laptop, handphone, pulsa untuk akses telepon dan internet, tidaklah mudah.

“Kami kesulitan berperan ganda antara melakukan aktivitas pekerjaan sesuai profesi yang kami lakukan sehari-hari sekaligus menjadi guru dadakan di rumah. Beberapa orang tua siswa pun menghadapi kesulitan pekerjaan dan pendapatan pada masa pandemi ini namun mereka tetap berkewajiban membayar uang dan kebutuhan sekolah anaknya,” ungkapnya.

Sementara itu, Karitas Yasinta Bait, S.Sos, guru mapel Sosiologi mengatakan, dirinya bersama bapak guru lainnya telah melakukan home visit ke rumah siswa-siswi. Kegiatan home visit menurutnya, telah dilakukan evaluasi dua kali bersama kepala sekolah dalam rapat dewan guru, guna memberi masukan atas partisipasi dan keaktifan belajar siswa dari rumah.

Ibu Katarina Deku, S.Pd (pertama dari kiri) dan Pak Thomas Didimus, S.Pd (kedua dari kiri) berpose saat kunjungan ke Buyasuri dengan jarak tempuh 60 km.

Menurut Yasinta Bait, home visit dilakukan untuk melihat keseriusan siswa belajar di rumah juga partisipasi orang tua-guru-siswa. Selain itu menurutnya, guru bisa berkomunikasi langsung dengan orangtua dan siswa.

“Saya bangga anak-anak dengan antusias membantu orangtua juga responsif menyelesaikan tugas-tugas bersama teman-teman dan orangtua,” pungkasnya.

Prosesnya menurut Yasinta, para guru mata pelajaran memaparkan semua rekapan hasil belajar peserta didik berupa tugas yang telah diberikan. Rekapan hasil belajar itu dikirim para wali kelas kepada seluruh siswa dan orangtua melalui grup WhatsApp atau Messenger Facebook, maupun telepon peserta didik dan grup orangtua/wali. Para guru bersama kepala sekolah juga mendiskusikan faktor kesulitan yang dihadapi dalam pembelajaran selama ini.

Frater Norbert di akhir……..

Blibli.com
Blibli.com

Tinggalkan Balasan