
“Selain ibu Farida memiliki akses ke penerbit, sekolah dan yayasan juga ikut mensupport sehingga lahirlah buku antologi cerpen ini. Semua ini bisa berhasil karena sekolah mencari sponsor juga penerbit yang bisa mencetak buku tidak dalam jumlah besar sekaligus,” ungkapnya.
Strategi promosi menurutnya, sekolah mulai publish melalui media sosial seperti Facebook atau group WhatsApp untuk mengetahui berapa jumlah jumlah pembaca dan penikmat satra yang tertarik memesan buku yang dipromosikan. Setelah mendapatkan sejumlah pemesan, sekolah langsung menghubungi pihak penerbit untuk mencetak sesuai jumlah pesanan.
Katanya lebih lanjut, penerbitan sekarang tidak seperti percetakan konvensional sebelumnya. “Buku ini sebelum dicetak, dibuat dalam bentuk e-book (buku elektronik-red) untuk dipromosikan. Apabila dalam tahapan promosi itu, jika ada yang berminat dan memesan, maka kita langsung pesan penerbit untuk mencetak sesuai jumlah pemesan. Itulah sistem yang kami gunakan di SMA Don Bosco,” ujarnya.
Ia menjelaskan, awalnya sekolah memesan ke penerbit untuk mencetak minimal 30 eksemplar dengan mekanisme pembagian tiap penulis mendapatkan satu buku, sedang sisanya menjadi arsip untuk dipajang sebagai bahan bacaan di perpustakaan sekolah.
Menurutnya, sumber dana diambil dari dana ekstrakurikuler atau dana bantuan operasional sekolah (BOS) untuk membantu penerbitan buku antologi ini. Ia mengatakan, sekarang ini banyak penerbit telah merubah pola konvensional dengan pola yang lebih sesuai dengan kebutuhan penulis.

“Kita sedang mendorong karya guru berupa bunga rampai yang mengisahkan pengalaman suka duka mengajar dari bapak dan ibu guru. Dulu memang Yayasan Prayoga pernah menyelenggarakan lomba menulis esai dan membukukannya tetapi bukan karya khusus guru SMA Don Bosco. Sekarang saya mau pembuatan buku dari karya guru-guru SMA Don Bosco. Yayasan Prayoga sangat mendukung karena ini merupakan hal positif untuk pengembangan sekolah juga,” katanya.
Rencana ke depan…



















