
Rencana ke depan menurutnya, ketika ada bulan bahasa, sekolah akan meminta beberapa guru untuk membuat sayembara selanjutnya karya-karya dikumpulkan untuk dibukukan. Ia mengatakan, kondisi ini awalnya memang agak dipaksa. Namun katanya, beberapa guru muda yang berbakat mesti didorong untuk menulis.
“Strategi yang kami lakukan adalah sesering mungkin diadakannya lomba menulis baik untuk siswa maupun guru dalam momen-momen penting sehingga dari momen ini, karya-karya yang berkualitas langsung diterbitkan,” ucapnya.
Ia mengatakan, banyak anak disuruh untuk menulis tetapi mereka kurang berminat karena tidak diadakan dalam even lomba dimana yang memiliki karya yang baik dan bermutu mendapatkan hadiah berupa uang pembinaan. Meskipun sedikit tetapi menurutnya, anak-anak merasa dihargai dan memotivasi mereka untuk terus berkarya melalui dunia tulis menulis.
Ia mengutarakan, anak-anak di SMA Don Bosco biasanya diberi kesempatan untuk magang di media masa seperti koran dan televisi di kota Padang. Sehingga menurutnya, untuk menghidupkan budaya literasi di sekolah, anak-anak mesti berkonfrontasi langsung dengan konteks lokal seperti media cetak dan elektronik.
“Kita bisa menjalin komunikasi dengan lembaga-lembaga yang memiliki jasa percetakan. Memang tantangannya, penulis yang telah dikenal publik, apa pun isi tulisannya pasti tidak banyak kesulitan dalam proses penerbitan. Sebaliknya, penulis pemula seperti di sekolah-sekolah, tentu menghadapi tantangan berat maka cara yang digunakan adalah dengan terlebih dulu mendata jumlah pemesan,” ujarnya.
Di akhir wawancara ia mengatakan, strategi lain yang sekolah buat yakni mengadakan peluncuran buku sekaligus bedah buku sebagai ajang memotivasi dan promosi sekolah. “Kami juga punya majalah sekolah dan tetap terbit dua bulan sekali hingga saat ini,” pungkasnya. (*)
Pewarta: Albertus Muda



















