
“Setiap kali anak menyetorkan karyanya, saya langsung googling. Seandainya saya menemukan ada tulisan yang menjiplak karya orang lain, langsung saya kembalikan. Tetapi puji Tuhan, setelah mengoreksi saya menemukan bahwa naskah yang mereka kumpulkan murni karya siswa karena saya dapat menelusuri dari segi struktur bahasanya,” ujarnya.
Di akhir wawancara dengan Warta Pendidikan via telepon seluler, ia mengajak para siswa untuk tetap menulis karena menulis merupakan sebuah aktivitas yang menyenangkan. Dan katanya, untuk memulainya, mesti berawal dari niat.
“Kalau niat sudah ada apa pun yang hendak kita lakukan menjadi mudah, menulis apa pun menjadi mudah. Buktinya dengan terbitnya buku ini karena para siswa mau memulai. Ketika ada niat maka mulailah menulis. Kita cuma butuh dua hal yaitu niat dan eksekusi,” ungkapnya.
Menurutnya, para guru mesti membuat terobosan yang lebih menarik melebihi siswanya. Budaya literasi di sekolah katanya, mesti menjadi pintu masuk bagi para guru agar semakin literat dalam membaca dan menulis. “Jangan biarkan siswa sendirian dan jangan sampai kita guru kalah dengan siswa,” ajaknya tegas.
Sementara itu, Martinus Kiwan, S.Pd., MM, Kepala Sekolah SMA Don Bosco Padang mengatakan, buku ini meruakan karya perdana yang spektakuler. Karya perdana ini merupakan kumpulan cerpen yang terinspirasi oleh siswa SMA Don Bosco yang mengikuti sayembara menulis cerpen tingkat Kota Padang.
“Dalam sayembara itu, sepuluh siswa dari sekolah saya masuk nominasi dan karyanya diterbitkan dalam bentuk buku antologi cerpen ini. Sebagai pimpinan, saya akan terus mendorong agar rutin diadakan pelatihan jurnalistik di sekolah, juga mengikutsertakan para siswa dalam pelatihan jurnalistik di luar sekolah yang tentunya diselenggarakan oleh pihak berkompeten,” ujarnya.
Pria asal Flores ini mengatakan, bersamaan dengan literasi sekolah yang mulai membudaya juga keterlibatan siswa menulis di majalah sekolah serta partisipasi siswa dalam setiap even lomba menulis di kota Padang, para siswa yang ikut selalu masuk nominasi. Ia pun mendorong agar karya sastra para siswa diterbitkan dalam buku antologi.
“Selain ibu Farida….



















