oleh

Mendesain Taman Bacaan Berkearifan Lokal

Apa yang dilakukan para pegiat dan penggerak literasi di atas, sebenarnya menunjukkan optimisme bahwa literasi tidak boleh dibiarkan lesu apalagi mati, meski kehidupan riil masyarakat di berbagai aspek terus ditelikung pandemi covid-19 yang belum juga usai. Satu prinsip yang mesti terus digaungkan dan dikampanyekan adalah fisik boleh menua dan pada suatu waktu akan mati, tetapi pikiran dan gagasan tidak pernah boleh mati.

Kita mestinya mewaspadai bahaya laten kematian berpikir. Mengapa? Sebab, jika terjadi kematian berpikir, maka ide dan gagasan sedang dibungkam bahkan dimatikan. Manusia sedang diperbudak bahkan memperbudak dirinya, ketika dengan tahu dan mau mengabaikan setiap pemikiran dan gagasan yang hendak disampaikan atau disingkapkannya, baik lewat dialog lisan maupun aktivitas kreatif dalam menulis.

Jikalau masyarakat di zaman batu pun, telah tersentuh literasi dasar yakni membaca dan menulis. Maka, proses pergerakan peradaban di era mondial pun mesti bergerak selaras zamannya alias lebih modern. Apabila proses pergerakan peradaban sengaja dihentikan dan dibiarkan agar perlahan terhenti, maka manusia sedang merancang dan mendesain bahkan berkontribusi bagi penurunan peradabannya sendiri.

Kita tahu bahwa progres peradaban selalu membuka ruang untuk maju dan berkembang. Terlambat berarti kita harus bekerja keras. Kerja keras, membutuhkan energi ekstra untuk mengejar ketertinggalan. Butuh adaptasi dan hidup selaras zaman. Selain itu, dibutuhkan daya kritis agar kita tidak mudah terlindas dan tergilas kemajuan zaman.

Literasi Berkearifan Lokal

Seperti yang kita ketahui bersama bahwa literasi bukan sekedar gerakan mempengaruhi, mengajak, mendorong dan melatih orang untuk membaca dan menulis. Lebih dari itu, literasi merupakan sebuah gerakan membangkitkan minat, kreativitas dan keterampilan untuk berpikir kritis, logis dan masuk akal, mulai dari tataran sederhana hingga tingkat tertinggi dengan menggunakan sumber-sumber pengetahuan dalam bentuk cetak, visual, digital dan auditori.

Baca Juga:  Di Tengah Wabah Covid-19, Siapa yang Berpihak pada Keselamatan Guru?

Sebuah komunitas sastra maupun taman bacaan, diharapkan memiliki akses atau ketersediaan bahan bacaan yang dapat dijangkau oleh masyarakat setempat atau anggota komunitas terkait. Sumber-sumber bacaan itu bertema khas Indonesia, tema luar negeri sebagai perbandingan juga buku-buku sastra dan otobiografi berupa petualangan para tokoh baik nasional maupun internasional yang tak kenal lelah memperjuangkan nasib hidupnya hingga menggapai kesuksesan dalam bidang apapun.

Pendiri dan pengurus setiap komunitas sastra dan taman bacaan pasti telah memiliki strategi pemetaan sumber-sumber yang hendak dijadikan referensi. Selain itu, memastikan bahwa sumber-sumber bacaan tersebut mudah diakses anggota komunitas dan masyarakat setempat. Pertanyaan, jika referensi rujukan yang dibutuhkan sudah dan sedang diusahakan untuk dipenuhi, bagaimana dengan referensi yang mendukung gerakan literasi berkearifan lokal?