oleh

Guru Malas Menulis, Koq Bisa Naik Pangkat? Sebuah Otokritik Mudahnya Naik Pangkat Tanpa Menulis

WPdotCOM – Tulisan ini merupakan hasil pengamatan setelah penulis refleksikan terkait ragam persoalan menjelang kenaikan pangkat bagi guru PNS. Karya tulis menjadi salah satu momok menakutkan bagi sebagian besar guru PNS yang hendak naik pangkat.

Berbagai alasan mendasar guru tidak mau menulis karya ilmiah, seperti waktu yang tidak cukup karena kesibukan profesi dan urusan keluarga, tidak suka menulis, tidak punya ide untuk memulai menulis dan lain ragam alasan lainnya. Alhasil, cukup dengan membayar sejumlah uang kepada biro jasa, maka karya tulis ilmiah siap dibawa pulang.

PermenPAN-RB Nomor 16 Tahun 2009 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kredit menggariskan, guru wajib mengikuti Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) setiap tahunnya. PKB harus dilaksanakan sejak golongan III/a dengan melakukan pengembangan diri. Dengan demikian, sejak golongan III/b guru wajib melakukan publikasi ilmiah dan/atau karya inovatif.

Demikian juga untuk kenaikan dari golongan IV/c ke IV/d  guru wajib melakukan presentasi ilmiah. Peraturan ini merupakan dasar hukum yang wajib dilakukan oleh setiap guru PNS dalam pengembangan keprofesiannya secara berkelanjutan. Karya tulis ilmiah menjadi sebuah kewajiban bagi guru sebagai bukti adanya implementasi tugas dan kewajiban profesinya.

Sayangnya, demi kesejahteraan dan kepangkatan, jalan pintas akhirnya ditempuh oleh sebagian guru PNS untuk memudahkan urusan tersebut. Cukup dengan sejumlah uang untuk membayar biro jasa, mereka sudah dapatkan satu buah karya tulis berupa PTK untuk urusan kenaikan pangkat tanpa harus melakukan penelitian sampai penyusunan laporan PTK. Sungguh merupakan hal yang sangat mudah ketika seseorang memiliki karya tulis tanpa harus menulis. Sangat ironis, jika hal ini menjadi kebiasaan pada setiap urusan kenaikan pangkat bagi guru PNS.

Baca Juga:  Pandemi Covid-19, Merubah Sistem Pembelajaran

Guru saat ini dituntut untuk lebih kreatif, inovatif dan mampu menginspirasi siswa maupun guru lainnya dalam dunia pendidikan. Dengan kata lain, lebih jelasnya guru harus mampu berkarya. Menulis adalah salah satu wujud berkarya yang mengaktualisasikan pikiran  dalam goresan kata yang bermakna. Bayangkan, jika guru punya karya tulis, tapi dari pikiran dan karya tangan orang lain? Apa jadinya dunia pendidikan kita? Hal ini pada akhirnya akan melahirkan generasi plagiator, yang cerdas mengakui karyanya tapi hasil “curian” karya orang lain.