Guru Malas Menulis, Koq Bisa Naik Pangkat? Sebuah Otokritik Mudahnya Naik Pangkat Tanpa Menulis

Berita Opini1009 Dilihat

Apa jadinya kalau guru tidak melakukan penelitian dan menulis karya ilmiah, tapi saat urusan kenaikan pangkat ia punya karya tulis? Naudzubillahiminzalik, sungguh memalukan! Hanya untuk memenuhi persyaratan urusan kenaikan pangkat, seorang guru harus “maling” karya orang lain.

Perlu dipahami secara sadar bahwa menulis karya ilmiah bukan hanya sekedar untuk naik pangkat, tapi menulis merupakan  aktualisasi pikiran yang diwujudnyatakan dalam bentuk tulisan bermakna. Menulis adalah investasi karya. Guru yang berkarya dengan tulisan ilmiah adalah upaya menginvestasikan ilmu melalui karya keprofesian yang dijalankan oleh seorang guru.

Guru yang mengasah kompetensinya dengan karya tulis adalah mereka yang sadar bahwa menulis adalah sebuah investasi yang harus ditanamkan agar memberikan kontribusi positif dalam pengembangan profesi dan kemajuan pendidikan di era milenial saat ini.

Karya tulis tidak akan mati karena bersumber dari pikiran dan tangan kita pada setiap aktivitas keprofesian, namun karya itu akan mati jika bukan merupakan aktualisasi dari hasil pikiran kita melainkan hasil karya orang lain. Guru akan lebih mulia dengan karya yang dicapainya. Guru yang hebat adalah mereka yang mampu menginspirasi orang lain dengan karya.

Guru Penulis, Guru inspiratif

Inspirasi dimaknai sebagai gagasan-gagasan kreatif yang muncul dari dalam diri setelah mempelajari segala sesuatu yang ada di sekitarnya melalui karya tulis ilmiah. Oleh karena itu, guru yang inspiratif adalah pendidik yang mampu memberikan pengaruh positif bagi siswa maupun pendidik lainnya melalui ide-ide, nilai-nilai, maupun tindakan kreatifitas yang positif. Guru yang mampu menginspirasi siswa maupun pendidik lainnya untuk berkarya adalah yang luar biasa.

William Arthur menyatakan, “guru yang “baik” bisa menjabarkan materi dengan baik, guru yang “superior” dapat mendemonstrasikan materi dengan baik, dan guru yang “luar biasa hebat” dapat menginspirasi siswa sehingga mereka terus berkembang dengan sendirinya. Dari pernyataan tersebut, tentu kita semua berharap dapat menjadi guru yang mampu menginspirasi setiap orang untuk berkarya di dunia pendidikan (bukan hanya siswa).

Oleh karena itu, guru harus bisa menjadi inspirator yang mendorong siswa maupun guru lainnya untuk memunculkan ide-ide kreatif dan inovatif dalam proses pembelajaran sehingga mampu menciptakan kualitas pendidikan menuju generasi abad 21 yang cerdas.

Akhirnya, penulis berharap semoga tulisan ini menjadi refleksi maupun referensi guru dalam upaya membangun komptensi profesi sehingga mampu menginspirasi siswa maupun guru lainnya untuk berkarya, bukan untuk melahirkan siluman” karya tulis ilmiah. (*)

Penulis: Rachman Firdaus, M.Pd (Pembina Agupena Cabang Kabupaten Lembata, Provinsi NTT)

Blibli.com
Blibli.com