Memberi Kekurangan, Menerima Kelimpahan

Profil Tokoh13140 Dilihat

Kepala sekolah pun selalu menjadi bagian penting dari situasi batas ini. Ia mengajarkan tentang keikhlasan memberi. Bagaimana tidak, seorang guru barunya datang mengajar dengan celana jins dan kameja kumal serta memakai sandal, tentu menimbulkan pemandangan aneh  dan  lucu bagi guru lainnya.

Maka setelah berjalan beberapa minggu, beliau memanggil saya menghadap ke ruangannya. Di sana sudah ada satu kotak besar yang ada di atas meja kerjanya. Dengan sedikit merendah beliau berkata,” Pak Markus, mohon maaf, tetapi ini ada sepasang sepatu yang mungkin cocok di kaki bapak. Ada juga sepasang seragam yang bisa bapak pakai setiap hari Senin. Hari lain sambil menyesuaikan dengan kondisi dan keadaan keuangan sekolah”.

Peristiwa ini selalu terkenang dalam batinku. Betapa tidak, situasi keterbatasan guru pada awal berdirinya Kabupaten Malinau, telah membidani “kelahiran” diriku untuk menjadi seorang guru. Bapak ibu guru yang lain dibentuk dalam proses perkuliahan yang normal di kampus-kampus universitas, sedangkan saya dibentuk dalam proses perkuliahan di kampus-kampus pengalaman nyata, dan dalam situasi keterbatasan. Pengalaman ini menimbulkan rasa bangga, tetapi terlebih memicuku untuk terus berbenah diri, supaya bisa setara dengan bapak ibu guru yang sesungguhnya.

Bukan soal uang

Setelah sebulan mengajar, tiba waktunya untuk menerima upah. Tetapi sejak awal ketika “dipaksa” menjadi seorang guru, kami tidak menyepakati berapa honor yang akan diberikan sebagai balas jasa. Juga tidak ada  surat lamaran sebagai penanda resmi diterima di lembaga itu. Semuanya berlangsung secara lisan dan dalam keyakinan untuk saling melayani.

Maka ketika diminta untuk menandatangani honor bulan pertama, saya menerima Rp250.000, untuk pelayanan 36 jam per minggu. Saya menerimanya dengan penuh syukur. Ini sangat membantu bagi pemenuhan kebutuhan anak-anak asrama yang juga sangat membutuhkan. Peristiwa ini persis seperti yang dikatakan dalam Kitab Suci, upahku adalah bekerja tanpa upah, sebab ada yang lebih membutukan dan itu menjadi bagian dari ungkapan rasa syukur.

Setelah beberapa bulan menjadi guru, ada godaan untuk meninggalkan tugas itu, yang datang dari teman-teman atau siapa saja, yang kadang suka mengusik tentang berapa uang yang diterima dengan jumlah jam mengajar yang padat seperti itu. Namun saya meyakinkan diri dengan alasan, ini bukan soal uang. Ini adalah pengabdian luhur bagi anak bangsa yang merindukan sosok guru untuk hadir dalam ruang belajar mereka. Kegembiraan paling besar bukan soal berapa besar uang yang diterima melainkan soal merajut kegembiraan paling alamaiah bersama para siswa yang sedang tumbuh dan berkembang.

Jika kita bisa hadir membangun kepercayaan dalam diri para siswa dan mereka merasa diterima, dihargai dan dijadikan sahabat maka di sanalah letak harta sesungguhnya. Betul bahwa kita memang membutuhkan uang dalam hidup, tetapi uang bukan pencetus kegembiraan dan kepuasan batin satu-satunya. Ada yang lebih dari itu dan hanya bisa diciptakan dan dirasakan oleh seorang guru di ruang-ruang belajar. Hal inilah yang menguatkan dan membangkitkan spirit untuk tetap bertahan melayani para siswa di SMPN 1 Malinau Kota.

Buah kesabaran

Akar yang “dipaksa” untuk menjadi rotan perlahan mulai mencintai tugas pengabdian itu. Maka ketika ada peluang formasi CPNS untuk guru, saya selalu berusaha untuk mengikuti tes tersebut. Namun,  selalu menemukan kendala pada persyaratan utama yaitu ijazah harus dari ilmu keguruan dan memiliki akta mengajar atau akta IV.

Blibli.com
Blibli.com