
WARTA PENDIDIKAN – Tahun 2026 menjadi momentum penting bagi masyarakat Sumatra Barat. Tepat satu abad telah berlalu sejak Gempa Sumani–Sianok 1926 mengguncang kawasan yang berada di sepanjang jalur Patahan Besar Sumatra (Great Sumatran Fault).
Peristiwa yang terjadi pada 28 Juni 1926 tersebut, bukan sekadar catatan sejarah geologi, melainkan pengingat bahwa masyarakat Sumatra Barat hidup berdampingan dengan salah satu sumber ancaman gempa aktif di Indonesia.
Dalam konteks inilah, kegiatan Satu Abad Gempa Sumani–Sianok 1926 menjadi sangat relevan. Inisiatif yang digagas oleh Alpha Rescue, BMKG, Himpunan Ahli Geofisika Indonesia (HAGI), Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI), Palang Merah Indonesia Sumatera Barat (PMI Sumbar), Patahan Sumatra Institute, dan Universitas Taman Siswa ini menunjukkan, peringatan bencana tidak cukup hanya dilakukan melalui seremoni atau mengenang korban masa lalu. Yang jauh lebih penting adalah menjadikan sejarah sebagai sarana edukasi untuk membangun ketangguhan masyarakat.
Yang menarik, rangkaian kegiatan ini tidak dilaksanakan secara sesaat menjelang puncak peringatan, melainkan telah berlangsung secara maraton sejak tahun sebelumnya.
Berbagai program edukasi seperti Gugus Sekolah Siaga Bencana (GSSB), Gugus Madrasah Siaga Bencana (GMSB), seminar kebencanaan, literasi mitigasi, pelatihan kesiapsiagaan, hingga kampanye publik telah dilaksanakan secara berkelanjutan.
Pendekatan ini patut diapresiasi karena sejalan dengan pandangan para ahli kebencanaan bahwa membangun budaya sadar bencana membutuhkan proses jangka panjang.
Lebih dari itu, kegiatan Satu Abad Gempa Sumani–Sianok 1926 juga menunjukkan perubahan paradigma dalam pengurangan risiko bencana. Jika dahulu mitigasi identik dengan urusan pemerintah dan para ahli, kini pendekatan yang digunakan lebih partisipatif dengan melibatkan sekolah, madrasah, organisasi masyarakat, relawan, komunitas keagamaan, akademisi, hingga media massa.
Keterlibatan berbagai unsur masyarakat tersebut sangat penting karena risiko bencana pada hakikatnya merupakan persoalan bersama. Sebagaimana dijelaskan dalam kerangka kerja United Nations Office for Disaster Risk Reduction (UNDRR), ketangguhan suatu wilayah tidak hanya ditentukan oleh kekuatan infrastruktur, tetapi juga oleh kapasitas sosial masyarakat dalam memahami risiko, mengambil keputusan, dan bertindak saat terjadi bencana.
Patut dicatat pula, kegiatan ini tidak hanya berpusat di Padang Panjang. Wilayah lain yang berada di sekitar segmen aktif Patahan Sumatra seperti Tanah Datar, Bukittinggi, dan Agam juga menjadi bagian dari rangkaian kegiatan.
Pendekatan regional seperti ini, dipandag sangat tepat karena ancaman gempa bumi tidak mengenal batas administrasi. Jalur sesar aktif melintasi berbagai kabupaten dan kota sehingga edukasi mitigasi harus dibangun secara lintas wilayah.
Dalam perspektif yang lebih luas, peringatan satu abad Gempa Sumani–Sianok 1926 merupakan upaya membangun memori kolektif kebencanaan. Banyak penelitian menunjukkan, masyarakat yang melupakan sejarah bencana cenderung memiliki tingkat kesiapsiagaan yang rendah. Sebaliknya, masyarakat yang mampu merawat ingatan terhadap peristiwa masa lalu akan lebih siap menghadapi ancaman yang mungkin terjadi di masa depan.
Oleh karena itu, keterlibatan berbagai organisasi dan komunitas dalam memeriahkan kegiatan ini merupakan langkah strategis. Semakin banyak elemen masyarakat yang terlibat, semakin luas pula pesan mitigasi yang dapat disampaikan. Kegiatan kebencanaan tidak lagi menjadi ruang eksklusif para akademisi atau relawan, tetapi menjadi gerakan sosial yang menyentuh seluruh lapisan masyarakat.
Pada akhirnya, makna terbesar dari peringatan Satu Abad Gempa Sumani–Sianok 1926 bukanlah mengenang bagaimana gempa itu terjadi, melainkan memastikan generasi hari ini memahami risiko yang mereka hadapi. Sejarah harus menjadi guru, bukan sekadar cerita masa lalu.
Inisiatif Alpha Rescue bersama BMKG, HAGI, IAGI, PMI Sumbar, Patahan Sumatra Institute, Universitas Taman Siswa, serta berbagai organisasi pendukung lainnya layak diapresiasi sebagai langkah nyata dalam membangun budaya sadar bencana di Sumatera Barat.
Sebab, masyarakat yang tangguh bukanlah masyarakat yang bebas dari bencana, melainkan masyarakat yang memahami ancaman, siap menghadapi risiko, dan mampu bangkit lebih cepat ketika bencana terjadi.
Satu abad telah berlalu. Namun pesan dari Gempa Sumani–Sianok 1926 tetap sama: hidup di atas Patahan Sumatra menuntut kita untuk terus belajar, bersiap, dan hidup berdampingan secara harmonis dengan alam. (*)
Penulis: Nova Indra (Direktur P3SDM Melati, Pimpinan Alpha Rescue)



















