
Setelah semalaman tidak tidur, masih ada agenda yang perlu diselesaikan yaitu pergi ke masjid guna menunaikan sholat subuh berjamaah. Kalau bisa ya sampai di masjid sebelum azan, karena secara matematis ada perbedaan perolehan pahala yang diterimakan, sebagai pamor kita kelak di hari pembalasan, yaitu wajah kita bersinar. Yang bisa datang lebih awal, dengan berwudhu dahulu dari rumah dan sampai di masjid sebelum azan dikumandangkan, maka besuk di hari pembalasan wajahnya akan bersinar seperti matahari, terang benderang bagaikan siang hari; Yang bisa datang awal, dengan berwudhu dahulu dari rumah dan sampai di masjid setelah azan dikumandangkan, maka besuk di hari pembalasan wajahnya akan bersinar seperti bulan, terang bagaikan bulan purnama di malam hari; Yang bisa datang belakangan, dengan berwudhu dahulu dari rumah dan sampai di masjid jauh sesudah azan dikumandangkan, maka besuk di hari pembalasan wajahnya akan bersinar seperti bintang, terang bagaikan bintang kecil dilangit biru malam hari.
Seusainya sholat sunat yang diperlukan serta doa antara azan dan iqomah, segeralah dilaksanakan sholat subuh berjamaah, ada yang jadi iman ada juga yang jadi makmum. Dengan khusuk dan tawadhuk mengerjakan sholat subuh itu, otomatis kita telah mengawali melaksanakan ibadah puasa Ramadhan di hari pertama seperti yang sudah diniatkan dalam hati tadi malam.
Sebenarnya siapakah yang diperintahkan untuk melaksanakan puasa itu? Seperti yang ditetapkan di dalam alQuran surat alBaqoroh ayat 183, puasa itu untuk orang yang beriman, sebagaimana ditetapkan kepada orang-orang terdahulu, supaya bisa menjadi lebih bertaqwa kepada Tuhan. Orang yang beriman disini setidaknya sama dengan imannya rukun iman yang iman kepada: Tuhan, malaikat, rasul, kitab, ketentuan tuhan, dan hari akhir; atau iman itu sama dengan imannya orang-orang yang disinyalir alQuran surat alAnfal ayat 2; “sesungguhnya orang-orang yang benar-benar beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya kepada mereka bertambah kuat imannya, dan hanya kepada Tuhan mereka bertawaqal” . Jadi sesuai perhitungan inilah sebenarnya orang-orang yang diperintahkan untuk berpuasa Ramadhan. Dan secara umum, puasa didefinisikan menahan untuk tidak makan, tidak minum, dan tidak melakukan sex, di siang hari.
Tetapi kadang kita itu, maunya memperoleh pahala puasa yang maksimal namun malah hanya lapar, haus, dan lemas yang diperolehnya karena kurang perhitungan di berbagai hal. Seharusnya kita sudah tahu dulu seluk beluk puasa dan ketuntasan minimalnya seperti apa, harus diperhitungkan dulu, yaitu antara lain: 1. Niat, sudah mantap dikerjakan oleh hati di malam hari, 2. Waktu, yang disesuaikan batas awal hingga akhir puasa, 3. Pelaksanaan, sesuai definisi puasa dan menghindari hal-hal yang mengurangi/merusak pahala bahkan mengenolkan, juga yang membatalkan puasa.


















