Matematika Ramadhan

ARTIKEL ILMIAH3462 Dilihat

Berhubung niat sudah diperhitungkan diawal artikel ini, langsung saja kita perhitungkan waktu puasa. Seperti halnya yang tersurat dalam surat alBaqoroh ayat 187; “ Makan dan minumlah hingga jelas bagimu perbedaan antara benang hitam dan benang putih yaitu waktu fajar,kemudian sempurnakanlah puasamu sampai datangnya malam, yaitu magrib”. Jadi waktu puasa itu dari fajar/ subuh sampai magrib/ datangnya malam. Disini fajar/subuh/ bacaan fajar/ quranalfajar itu ditandai, kita sudah bisa membedakan benag putih dan benang hitam tanpa penerangan; atau lebih gampangnya sesuai waktu subuh di jadwal abadi sholat waktu setempat. Sedangkan magrib/ datangnya malam itu ditandai dengan adanya teja/ candik ayu di langit pasca matahari terbenam; atau lebih mudahnya sesuai waktu magrib jadwal abadi sholat waktu setempat. Waktu puasa seperti itu, tidak perlu ditambah maupun dikurangi. Menjelang subuh disunahkan mengakhirkan sahur, sesaat masuk waktu magrib disunahkan segera berbuka.

Sedangkan pelaksanaan puasa, sesuai definisi, yaitu secara umum/ awam, asal sudah bisa menahan/ mencegah untuk tidak makan, tidak minum, dan tidak melakukan sex, itu sudah sah puasanya. Namun mungkin pahalanya hanya minim sekali, bahkan ada yang hanya mendapat haus, lapar, dan capek. Untuk itu supaya tidak mendapat pahala yang minim-minim banget, kita berusaha untuk mempuasakan sebagian besar anggota badan kita juga, yang dikenal dengan istilah puasanya orang khusus. Yang mana orang khusus itu kalau puasa anggota-anggota badanya juga ikut berpuasa. Misalnya mata, mata juga berpuasa dengan cara hanya melihat hal-hal yang positif saja, seandainya terpaksa terlihat hal-hal yang negatif segera menghindar atau berpaling. Telinga, digunakan untuk mendengar yang baik-baik saja, kalau tidak baik ya tidak usah didengarkan. Hidung, digunakan untuk mencium yang harum dan wangi saja tetapi ya harus ingat bahwa bau mulut orang yang sedang berpuasa itu lebih disukai tuhan dari pada wangi kasturi. Mulut, digunakan untuk bicara yang baik-baik, gunakan untuk memberi nasihat baik, baca alQuran, tilawah, zikrullah dan lain-lain, lebih baik diam dari pada omongkosong, tidak menggunjing, tidak mengumpat, tidak mencacimaki , tidak mengolok-olok, tidak membully dan lain sebagainya. Pikiran, gunakan untuk mikir positip dan jangan mikir negatif dan jorok, dan jangan marah; jangan marah; jangan marah. Tangan, gunakan untuk berbuat baik, bekerja dan berkarya dengan baik jua, jangan sebaliknya. Kaki, gunakan untuk melangkah ke tempat yang baik dan mengerjakan yang baik-baik saja, jangan sebaliknya. Itulah puasanya orang khusus, dan seandainya ada seseorang yang terpaksa mengajak bertengkar/ berkelahi sepontan semua anggota badan mengisyaratkan “tidak” sambil berkata; “saya sedang puasa; saya sedang puasa; saya sedang puasa”.

Demikian juga untuk mengoptimalkan pahala puasa, kitapun harus mempuasakan hati kita, yang seperti ini dinamakan puasanya orang spesial banget/ puasa orang khususnys khusus. Yang mana hatinya sudah tidak memikirkan dunia, sudah tidak memikirkan belanja, tidak menyiapkan menu buka puasa, nanti buka sekadarnya, minum seteguk air putih dan sedikit makanan seadanya, hanya untuk membatalkan puasa di magrib itu saja, dan demikian juga di dalam sahurnya. Itulah tiga versi tatalaksana puasa, tinggal kita pilih yang mana, sesuai perhitungan kita masing-masing, kuatnya sampai dimana, entah puasa dengan pahala paling minim seperti puasanya orang umum/ awam, atau puasa dengan pahala agak banyak seperti puasanya orang khusus, atau bahkan sanggup mengoptimalkan pahala puasa seperti puasanya orang spesial banget.

Keadaan yang demikian itu kita pertahan hingga kita sempat berjamaah sholat dhuhur dan sholat sunatnya beserta zikrullahnya, selepas dhuhur bolehlah kita tidur, karena tidurnya orang yang sedang berpuasa merupakan ibadah tersendiri, sampai menjelang waktu ashar kita siap-siap melaksanakan jamaah sholat ashar dan zikrullahnya, dan seterusnya kita pertahan puasa kita jangan sampai pecah atau rusak, karena puasa kita adalah perisai yang menyelamatkan kita selama kita tidak memecahkannya.

Maka sampailah waktu menjelang berbuka puasa yang mustajab untuk berdoa, dimana doa tersebut tidak akan ditolak oleh Allah saw. Dengan perhitungan yang mantap, kita berdoa sesuai yang kita perlukan dan butuhkan sampai saat yang ditunggu- tunggu dengan kegembiraan yaitu waktu magrib, waktunya untuk menyegerakan berbuka. Maka segeralah berbuka. Bismillah, minum seteguk air, makan sebutir kurma, seraya berdoa; “ Ya Allah denganMu aku puasa, denganMu aku beriman, dengan rizkiMu aku berbuka, hilang hausku, basah kerongkonganku, maka tetapkanlah pahala untukku, insyaaaaaaAllah.

Blibli.com
Blibli.com

Tinggalkan Balasan