Matematika Ramadhan

ARTIKEL ILMIAH3462 Dilihat

Setelah acara berbuka selesai, berarti rangkaian agenda siang hari terselesaikan, dengan harapan dan doa yang telah dipanjatkan kiranya Allah swt. Menetapkan pahala kita satu satuan Soma, dan diampuni dosa kita yang telah lalu. Seperti halnya hadits yang terkenal berbunyi; “ Barang siapa SHOMA Ramadhan dengan iman dan bermatematika, maka diampuni dosanya yang telah lalu”. Demikian rangkaian acara seharian dalam menggapai QOMA dan SHOMA terselesaikan, dan apabila rangkaian acara seharian ini tadi diulang di hari-hari kedua, ketiga, dan sterusnya sampai hari keduapuluhsembilan atau hari ketigapuluh, terus menerus dan ditambah acara i’tikaf maka acara menjaring lailatulqodar terselesaikan juga insyaaaaaaAllah. Yang mana nilainya lebih baik dari 1000 bulan, secara matematis didapatkan:   “LAILATULQODAR  >>>>>>>  1000X 30X QOMA”.

Dengan demikian maka akan terampuni pula dosa kita yang telah lalu,seperti yang tertera dalam hadits, dari Abu Hurairah ra., Rasulullah saw. bersabda,: “ Barang siapa Qoma lailatulqodar dengan iman dan bermatematika, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”. (Bukhari, Muslim-At-Targhib ).

Untuk melengkapi agenda-agenda; Qoma, Shoma, dan Qoma lailatulqodar; selanjutnya tidak lupa pula kita tunaikan agenda yang terakhir sebelum pelaksanaan sholat idul fithri yaitu menunaikan “zakatulfithri”,adalah zakat makanan (pokok ) yang kisaranya sebesar “satu shok” kurma, yang setara dengan “2,741 kg beras atau makanan pokok yang lain. Yang mana peruntukan zakatulfithri itu untuk memberi makan pada orang miskin, dan yang sangat penting bagi pelaksananya adalah untuk menghantarkan pahala puasa kita yang semula masih menggantung di angkasa bisa terbentuk sayap berwarna hijau yang langsung terbang sampai kehadirat Allah swt. Adapun waktu pelaksanaan zakatulfithri berkisar antara sore hari terakhir bulan Ramadhan dan sesaat sebelum terlaksananya sholat idul fithri, kalau ditunaikan di luar waktu yang ditentukan namanya bukan lagi zakatulfithri, tetapi hanya sedekah biasa saja.

Seperti itulah Tuhan menghendaki kemudahan untuk kita dan tidak menghendaki kesukaran buat kita, dan setelah kita mencukupkan bilangan, 29 hari dengan diadakan rukyah yang didukung hisab, atau 30 hari jika hilal 1 syawal terhalang oleh mendung, cuaca dan lain sebagainya, di sore itu pula kita harus mengagungkan nama Tuhan, dengan istilah “ takbiran” semalam suntuk, dan segera mensyiarkan sholat idul fithri di tanah lapang (mushola) beberapa jam setelah berjamaah sholat subuh. Setelah melewatkan malam id sebagai malam “jaizah” yaitu malam penerimaan hadiah dari Tuhan yang berupa berkah, rahmat, dan pembebasan dari api neraka; dan pembebasan dari siksa kubur yang bisa takbiran semalam suntuk; dan telah melaksanakan sholat idul fithri, maka kitadiperintahkan oleh Tuhan untuk betebaran di muka bumi dengan membawa ampunan. Tentunya ampunan dari Tuhan, dengan kata-kata selamat dari Tuhan,: “ Sesungguhnya kalian telah ridho kepada-Ku, dan Akupun telah ridho pada kalian”. (Ibnu Hibban, Baihaqi ).

Yang pada gilirannya, orang-orang yang beginilah orang yang bisa kembali suci tanpa dosa karena telah diampuni dan menang memperoleh keridhoan , maka para alim ulama’ menganggit kata-kata mutiara berbunyi,: “ Minal aidin wal faizin “. Ucapan kita-kita yang mengingikan puasa kita-kita diterima adalah,: “taqobbalallahumina waminkum” = “Ya Allah terimalah puasaku dan puasamu”. Sedangkan kata-kata yang umum untuk yang umum juga adalah: “ Selamat idul fithri”  =  “ Selamatmakan kembali”, karena memang hari ini hari dilarang puasa dan harus makan.

Blibli.com
Blibli.com

Tinggalkan Balasan