
Sebut saja, Charles Dickens, pengarang kelahiran London, mencapai kemasyhurannya setelah melewati jalan berliku-liku. Keputusasaan melilitnya, ketika semua karangannya ditolak oleh semua penerbit. Ia bangkit, ketika suatu hari seorang editor memuji buah penanya. Charles yang muda itu seperti tersengat, bangkit dari hidupnya yang melarat, semangatnya pulih dan ia seakan lahir kembali hanya oleh sebuah pujian. Apresiasi telah menggerakkan tangan Dickens. Dari goresan tangannya, mengalirlah berbagai buku yang memperkaya literatur dunia. Tanpa kata-kata manjur editor itu, tentu dunia akan lebih miskin dan kita tak dapat menikmati berbagai buah karya Charles Dickens seperti Oliver Twist atau Christmas Carol (Stephie Kleden Beetz, Cerita Kecil Saja, 2009:52-53).
Pengalaman yang sama, penulis alami langsung ketika mencoba memberanikan diri mengirim tulisan ke redaksi media cetak. Awalnya, artikel-artikel yang penulis kirim ke alamat redaksi, kerap penulis menunggu sampai bosan bahkan timbul rasa putus asa. Pada suatu kesempatan, penulis diberitahu bahwa artikel penulis dimuat pada kolom opini di salah satu koran lokal. Hati yang seolah mati, seakan hidup kembali. Bahkan salah satu guru penulis pernah mengatakan,
“Jika setiap artikel yang kita kirim belum dimuat di media cetak khususnya harian terbesar di NTT, maka kita belum digolongkan sebagai penulis”. Ketika pada suatu kesempatan artikel penulis lolos dimuat, apresiasi mengalir. Semangat penulis semakin menyala-nyala untuk menerangi masa depan bangsa mulai dari sekolah, kabupaten Lembata dan NTT. Sampai dengan hari ini masih konsisten menulis karena berkat apresiasi yang penulis terima. Salam Literasi. (*)
Catatan: GSMB (Gerakan Sekolah Menulis Buku) Nasional
Albertus Muda, S.Ag (Guru Koordinator GSMB Nasional SMAN 2 Nubatukan-Lembata-NTT)



















