Anatomi Spiritual Bencana dalam Puisi Saunir Saun

ARTIKEL2872 Dilihat

WARTA PENDIDIKAN – Saat hati masih diselimuti duka dan keprihatinan mendalam atas musibah banjir Sumatera, saya membaca bait demi bait puisi Pak Saunir sebagai tempat berteduh bagi jiwa yang gundah.

Sebagai penyair yang dianugerahi oleh organisasi Satu Pena Sumatera Barat dengan  julukan penyair prolifik atas produktifitasnya menulis, Pak Saunir tidak hanya merangkai kata, tetapi juga merekam keresahan sosiologis yang sangat relevan dengan tragedi ekologi yang kita alami hari ini.

Puisi bukan sekadar deretan kata yang berima, melainkan sebuah instrumen tajam untuk membedah realitas batin yang sering kali tersembunyi di balik hiruk-pikuk peristiwa dunia. Melalui karya terbarunya, Pak Saunir Saun (2025) mengajak kita menyelami kedalaman tragedi bukan melalui angka-angka statistik korban, melainkan melalui kacamata ruhani yang jernih. Beliau tidak hanya memotret kehancuran fisik yang kasat mata, tetapi juga mendeteksi adanya retakan besar dalam fondasi kemanusiaan kita yang luput dari perhatian publik. Dalam ulasan ini, kita akan melihat bagaimana Pak Saunir memetakan hubungan antara waktu, alam, dan degradasi adab yang menjadi inti dari pesan langit dalam setiap baitnya.

Dunia kepenyairan sering kali menjadi cermin yang memantulkan kembali wajah bopeng kemanusiaan kita. Dalam puisi bertajuk “Ditinggalkan Waktu”, penyair Saunir Saun tidak sekadar merangkai kata untuk meratapi bencana alam yang melanda Sumatera di penghujung tahun 2025. Lebih dari itu, beliau sedang melakukan sebuah otopsi spiritual terhadap kondisi batin sebuah bangsa. Melalui larik-larik yang lugas namun tajam, Pak Saunir mengajak kita merenungi bagaimana waktu—sang penggilas yang tak kenal kompromi—perlahan menjauhkan kita dari ingatan akan penderitaan, sementara luka di jiwa para korban tetap menganga tanpa penawar.

Pak Saunir membuka puisinya dengan kesadaran akan kefanaan waktu. Namun, beliau juga menarik benang merah antara musibah alam dengan perilaku manusia terhadap lingkungannya. Fenomena banjir bandang dan hutan yang rusak dalam puisi ini seakan menjadi pembenaran atas peringatan Ilahi dalam Surah Ar-Rum ayat 41: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”

Bagi Pak Saunir, alam Sumatera yang “rata” adalah teguran agar manusia kembali menata adabnya terhadap makrokosmos.

Blibli.com
Blibli.com